Jakarta, Mobilitas – Suzuki Motor di Thailand menyerahakan pabrik berikut lahannya di Rayong, Thailand, kepada Ford Motor di negara itu setelah proses administrasi dan legal akuisisi tersebut selesai.
Keterangan Federasi Industri Thailand (FTI) dan laporan The Economic Express yang disitat Mobilitas di Jakarta, Minggu (8/2/2026), menyebut penyerahan itu mulai berlaku efektif per Januari 2026.
“Penjualan pabrik ini dilakukan karena Suzuki menghentikan produksi kendaraan di Thailand akibat persaingan ketat dengan produsen mobil Cina dan rencana restrukturisasi bisnis yang dilakukan,” bunyi laporan tersebut.
Sejumlah analis industri mengatakan apa yang dilakukan Suzuki tersebut memperlihatkan telah terjadi pergeseran besar di pusat manufaktur otomotif ASEAN (Thailand) dimana produsen mobil Jepang secara bertahap kehilangan keunggulan kompetitif . “ ungkap analis industri Apichai Ratanakorn.
Menurut Apichai, produsen mobil Cina menyodorkan model yang tengah menjadi tren dunia yakni mobil listrik baterai. Selain itu, pabrikan-pabrikan Negeri Tirai Bambu itu juga memproduksi lokal mobil mereka di negara tempat mereka beroperasi.

“Terlebih, mereka juga membangun jaringan supply chain yang kuat di negar-negar tempat merek beroperasi. Mereka menggandeng perusahaan Cina lainnya yang memproduksi suku cadang dan sebagainya Sehingga operasi produksi pabrikan Cina lebih efisisien. Selain itu ada dukungan insentif mobil listrik maupun insentif bagi investasi baru di negara mereka berada, ini yang membuat mereka berdaya saing tinggi. “ papar Apichai.
Sementara, fakta data FTI menyebut produksi mobil di pabrik Suzuki Thailand telah anjlok, hanya sebanyak 4.400 unit pada tahun 2024. Padahl di masa kejayaannya, produksi mencapai hampir 60.000 unit per tahun, setelah pabrikan berlambang huruf “S“ itu berinvestasi pabrik di negara itu pada tahun 2012.
Kemudian di akhir tahun 2025 Suzuki memutuskan untuk menghentikan produksi di Thailand. Merek ini akan beralih ke model impor sepenuhnya. (Din/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id












