Jakarta, Mobilitas – Selain 70.000 pick up, PT Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas) juga mengimpor 35.000 unit truk ringan Tata Ultra T7 dari India.
Keterangan resmi kedua produsen pick up India – Mahindra dan Tata Motors – yang dikutip Mobilitas di Jakarta, Sabtu (21/2/2026) menyebut dari Mahindra dibeli 35.000 unit pickup Scorpio. Sedangkan dari Tata Motors, Agrinas membeli 70.000 unit kendaraan, terdiri dari 35.000 unit pick up Yodha dan 35.000 unit truk ringan Tata Ultra T7.
Merespon kebijakan impor ini, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Sabtu (21/2/2026), mewanti-wanti agar pemerintah memikirkan dampak impor senilai Rp 24,66 triliun itu bagi industri otomotif yang ada di dalam negeri, serta kelangsungan pertumbuhan ekonomi.
“Saya seperti Kemenperin (Kementerian Perindustrian) dan Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia), yang intinya produsen mobil di Indonesia siap untuk memenuhi permintaan pick up itu. Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) lebih dari 40 persen dan didukung jaringan servis bengkel pelayanan purna jual yang tersebar cukup luas,” papar Evita.
Dia juga mengingatkan, dengan menyerap produk dalam negeri, maka industri – baik produsen mobilnya maupun industri komponen dan pendukung lainnya – kelangsungannya terjaga. Penyerapan tenaga kerja terjadi sehingga daya beli masyarakat juga terjadi, dan ujungnya konsumsi (baik produk otomotif maupun kebutuhan pokok) yang selama ini menjadi tumpuan pertumbuhan ekonomi meningkat.

Lebih dari itu, lanjut Evita, pasar otomotif juga sehat karena permintaan produknya masih ada. Selain itu, kendaraan niaga – pick up dan truk – merupakan sarana untuk operasional bisnis, sehingga kegiatan ekonomi produktif berjalan aktif.
“Itu yang disebut ekonomi sirkular, dengan multiplier effect yang besar. Bukankah pemerintah ingin mengejar pertumbuhan ekonomi di atas 5,2 persen. Ingat kalau pasar bagus dan ekonomi tumbuh, maka investasi akan masuk. Dan jangan lupa dengan permintaan kendaraan produk dalam negeri maka nilai tambanya lebih besar. Jadi hemat saya anggaran Rp 24,66 triliun sebaiknya dimanfaatkan memutar ekonomi nasional dengan menyerap produk lokal,” tandas Evita.
Sementara itu, Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Sabtu (21/2/2026), menyebut kapasitas produksi pick-up Indonesia 400.000 unit lebih per-tahun. Namun hingga kini belum dapat dipergunakan secara optimal.
“Artinya, jika ada permintaan maka kapasitas produksi terpakai akan meninga. Tentu ini membawa dampak positif. Memang untuk 4×4 kita butuh waktu, tetapi siap dan sanggup produksi. Kalau kita pakai produk dalam negeri ada manfaat ekonomi Rp 27 triliun. Dan sebaliknya, kalau pilihannya impor, tantangan industri kita semakin berat,”ujar Putu. (Din/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id








