Jakarta, Mobilitas – Sebab sekitar 20 persen minyak jadi dan 22 persen minyak mentah dikirim melalui selat Hormus, yang kini ditutup oleh Iran. Negeri Para Mullah itu mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan mengancam akan menembak semua kapal yang nekad melaluinya.
Langkah Iran itu menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke negara itu, Sabtu (28/2/2026) lalu. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.
Penutupan selat ini telah mengkhawatirka ekonomi dunia, khususnya harga minyak yang melambung. Sebab, seperti dilaporkan kantor berita Tasnim yang dikutip Mobilitas di Jakarta, Selasa (3/3/2026) menyebut penasihat senior untuk panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) Ebrahim Jabari, juga mengancam akan menyerang jalur pipa minyak.
Bahkan membuat harga minyak melambung tinggi hingga US$ 200 per barel, dari harga saat ini. “Kami tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini. Harga minyak akan mencapai US$200 dalam beberapa hari mendatang,” tegas Jabbari.
Selat Hormuz merupakan jalur laut strategis yang merupakan rute utama untuk ekspor minyak dan gas dari Timur Tengah ke seluruh dunia. Sekitar 20 juta barel minyak per hari, atau sekitar 20 persen dari konsumsi dunia, melewati jalur ini.

“Tentu ini juga memberi potensi dampak yang serius ke Indonesa, sebab sebagai negara pengimpor minyak sangat rentan terhadap lonjakan harga energi global. Jika pasokan dari Timur Tengah terganggu, harga minyak dunia naik harga BBM, subsidi energi, hingga beban APBN juga meningkat,” ungkap pengamat energi dan ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Fahmy menyebut Indonesia masih mengimpor minyak 1,2 juta barel per hari. Bahkan di sehari setelah serangan terjadi, dampaknya sudah terasa dimana harga minyak dunia lahngsung naik.
“Sejak serangan pertama AS-Israel ke Iran, harga minyak dunia naik dari US$ 67, sekarang sudah US$ 80 per barel. Kalau eskalasi perang meluas, dipastikan naik terus. Bahkan bisa sampai US$ 100 per barel, bahkan lebih,” papar Fahmy.
Artinya, kata dia, harga BBM – mulai Pertalite hingga Pertamax – berpotensi naik. Ini tentu menjadi masalah yang riskan mengingat sebentar lagi lebaran, karena harga barang kebutuhan makin mahal, sehingga inflasi naik. (Anp/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id











