Jakarta, Mobilitas – Pemanfaatan nikel terbanyak di dunia hingga saat ini ternyata untuk untuk industri baja nirkarat alias stainless steel. Fakta itu sekaligus mematahkan anggapan yang menyebut pemanfaatan nikel yang terbanyak untuk baterai kendaraan listrik (EV).
Fakta tersebut diungkap oleh Presiden Nickel Institute, Veronique Steukers saat ditemui Mobilitas di Jakarta, Jumat (5/6/2026) di sela diskusi bertajuk Indonesia Critical Minerals Conference & Expo (ICMCE) 2026.
“Jadi kalau kita lihat pemanfaatannya di industri sampai akhir 2024 lalu, nikel yang untuk bahan pembuatan baterai EV, baru sekitar 16 persen. Sementara, yang terbanyak (yaitu) 66 persen digunakan untuk produksi stainless steel. Tetapi, pemanfaatan nikel untuk EV memang tidak hanya dalam baterai karena di sisanya yang 24 persen, beberapa diantaranya digunakan untuk komponen pendukung kendaraan listrik,” papar Veronique kepada kontributor Mobilitas, Bernadetta Elsa Nugrahanti.
Pemanfaatan untuk komponen pendukung produksi kendaraan atau industri alat transportasi nikel digunakan untuk stainless steel, bahan pelapis atau pengecatan dan lainnya. Sehingga, meski untuk bahan produksi baterai masih reltif kecil, namun nikel juga banyak dibutuhkan oleh industri kendaraan.

Pernyataan senada diungkap pengamat energi, Ronal Tuerah, yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Senin (8/6/2026). Menurut Ronald, saat ini industri produsen baterai memang banyak membut baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP), sehingga baterai jenis ini menguasai pasar.
“Namun, itu bukan berarti itu akhir dari cerita nikel untuk pendukung industri kendaraan elektrifiks\asi. Sebab selain digunakan untuk membuat komponen pendukung, juga masih ada peluang di sektor ini, diantaranya untuk baterai kendaraan listrik berdaya jangkau jarak jauh,” ujar Ronal.
Selain itu, nikel juga digunakan sebagai bahan pembuatan energy storage skala besar, baterai berteknologi solid state, dan baterai dengan katoda berdensitas energi tinggi. Artinya, nikel masih diperhitungkan untuk pembuatan baterai EV. (Els/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id











