Hadirkan Taksi Terbang di RI, Ini Misi Prestige Aviation

0
1568
Executive Chairman Prestoge Avitaion Rudy Salim bersama Ketua MPR RI Bambang Soesatyo saat memberi keterangan pers soal taksi terbang di Tanah Air - dok.Istimewa

Jakarta, Mobilitas – Prestige Aviation (PT Prestisius Aviasi Indonesia) menyuguhkan terobosan baru dalam sektor trans[rtasi bagi mobilitas orang maupun barang (logistik) di Indonesia dengan taksi terbang. Bahkan, perusahaan besutan pengusaha muda kondang Rudy Salim ini, telah memesan 100 unit pesawat nirawak EHang 216.

Executive Chairman Prestige Aviation Rudy Salim mengatakan Prestige Aviation memiliki tujuan atau misi untuk memenuhi kebutuhan transportasi udara Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Dengan adanya transportasi udara yang memfasilitasi mobilitas antar pulau itu, lanjut dia, akan membantu pertumbuhan perekonomian tiap daerah.

“Apalagi cost yang dikeluarkan itu terbilang murah dibandingkan dengan menempuh perjalanan melalui jalur darat. Era baru mobilitas udara telah dimulai, selamat datang di masa depan,” tandas dia dalam keterangan resmi di Jakarta, belum lama ini.

Tak hanya itu. Menurut Rudy, adanya transportasi udara yang memfasilitasi mobilitas antar-pulau akan membantu pertumbuhan perekonomian tiap daerah. Terlebih, EHang menawarkan kemudahan dan keunggulan.

EHang 216 saat menjalani demo terbang di Bali pada November 2021 lalu – dok.Istimewa

Bahkan dibanding pesawat berawak tradisional sekalipun. Pasalnya, konsep teknologi EHang AAV mengikuti tiga filosofi yaitu tingkat keamanan maksimum, pengendalian tanpa awak, serta kontrol dari pusat komando dengan kendali cerdas.

“Tanpa perlu ribet mengontrol atau mengoperasikan pesawat, penumpang bisa langsung duduk dan menikmati perjalanan. Selain itu dengan menggunakan tenaga listrik, EHang 216 ramah lingkungan dan dapat mengurangi kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh emisi,” papar Rudy.

Hang 216 memiliki dimensi tinggi 1.85 meter, lebar 5.63 m, dan muatan maksimal 650 kg. Pesawat ini mampu menempuh jarak hingga 30 kilometer dengan waktu terbang maksimal 25 menit dalam kecepatan maksimal 130km/jam.

Pengamat transportasi udara Ferdinan Hutagalung menyebut keberadaa taksi terbang menjadi solusi alternatif di saat kegiatan yang sangat mendesak dan butuh waktu tempuh yang sangat cepat. Terlebih, di perkotaan dengan lalu-lintas padat.

EHang saat dipamerkan di sebuah pameran – dok.China Daily

“Sementara untuk transportasi antar pulau perlu dipikirkan kemampuan terbang hingga jarak yang lebih jauh plus waktu terbangnya. Meskipun untuk jarak antar pulau yang berdekatan dengan jarak tempuh di bawah 30 menit masih oke. Tetapi, yang pasti untuk mobilitas di perkotaan yang padat lalu-lintasnya bisa menjadi alternatif, terutama untuk pengiriman logistik yang sangat mendesak dan penting,” kata dia saat dihubungi Mobilitas di Jakarta, Senin (11/4/2022).

Untuk diketahui , EHang 216 pada November 2021 lalu telah sukses menjalani flight demo di Bali. Demonstrasi kontrol pada pusat komando dan koordinasi berjalan lancar, EHang 216 berhasil mengudara dengan ketinggian 300 meter mengitari pulau Bali, tanpa awak dan penumpang.

Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Bambang Soesatyo yang dihubungi Mobilitas di jakarta, Senin (11/4/2022) menyebut transportasi udara tanpa awak EHang 216 dapat menjadi jalan keluar untuk mengatasi kemacetan. Termasuk sebagai sarana penunjang kegiatan berbagai bisnis yang terkait dengan transportasi.

Taksi terbang Ehang – dok.KrASIA

“Bahkan EHang 216 juga dapat membantu kepolisian untuk berpatroli di lokasi-lokasi bencana yang sulit dijangkau. Basarnas misalnya, bisa juga memanfaatkannya untuk menyalurkan bantuan bencana di titik tertentu yang sulit. Jadi, banyak manfaat dari sarana mobilitas udara ini,” kata dia. (Jap/Aa)