Kecelakaan Truk dan Bus Marak di Indonesia, Ada Andil Pengusaha

0
1108
Ilustrasi, truk yang mengalami kecelakaan parah di jalan tol - dok.Istimewa

Jakarta, Mobilitas – Penyebab maraknya kecelakaan truk maupun bus di Indonesia disebut mayoritas karena faktor manusia.

Bahkan Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono menyebut faktor kealpaan manusia (human error) mencapai 90% dari seluruh penyebab kecelakaan.

“Ada beberapa kategori human error penyebab kecelakaan itu. Tetapi, 60% dari human error itu adalah karena pengemudi yang kelelahan dan mengantuk. Selebihnya, karena tidak tertib dan tidak disiplin, faktor kondisi jalan atau alam, serta faktor teknis,” papar Soerjanto saat dihubungi Mobilitas di Jakarta, Rabu (17/8/2022).

Pengemudi (terutama truk) mengalami kelelahan dan mengantuk dikarena manajemen perjalanan yang tidak terkelola dengan baik. Banyak perusahaan angkutan truk yang menetapkan waktu pengiriman barang milik penyewa dalam batas yang mepet.

“Sehingga, pengemudi dituntut untuk cepat mengantar barang dan kembali pulang, akibatnya kelelahan. Apalagi, banyak pengemudi yang tidak disiplin. Banyak kejadian pengemudi yang mengalami microsleep (tertidur tanpa sadar meski sekejap) saat menyetir,” ujar Soerjanto.

Kecelakaan bus akibat rem blong – dok.Istimewa via The Straits Times

Selain itu, juga banyak ditemukan perusahaan angkutan truk yang tidak melakukan perawatan armadanya tidak maksimal karena demi menghemat anggaran. Menggunakan part-part yang semestinya sudah harus diganti, ban yang tidak dalam kondisi bagus, begitu pula dengan penggantian dan perawatan perangkat pengereman.

“Apalagi, banyak pengemudi truk maupun bus yang memiliki habit atau kebiasaan yang tidak baik. Melanggar marka, yang seharusnya berjalan di lajur kiri nyelenong di jalur kanan. Memacu kendaraan melebihi batas, menyalip dan memepet kendaraan lain sesukanya demi mengejar waktu. Dan yang menyedihkan mereka tidak biasa mengecek kondisi kendaraan sebelum melakukan perjalanan,” papar Soerjanto.

Ketua Keselamatan Indonesia (Kamselindo) Kyatmaja Lookman yang dihubungi Mobilitas, Rabu (17/8/2022) tak menampik keterangan Soerjanto itu. Bahkan dia menyebut, tidak sedikit supir atau pengemudi truk yang tidak mendapatkan pelatihan yang memadai. (Jrr/Aa)