Bisnis

Meski Lampaui Target Tapi Penjualan Mobil di 2025 Masih Jeblok, Ini Penyebabnya

×

Meski Lampaui Target Tapi Penjualan Mobil di 2025 Masih Jeblok, Ini Penyebabnya

Share this article
LCGC Toyota Agya - dok.Mobilitas

Jakarta, Mobilitas – Meski total penjualan mobil sepanjang tahun 2025 pada Januari hingga Desember telah melebihi target penjualan yang ditetapkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang sebanyak 780.000 unit, namun masih anjlok dibanding tahun 2024.

Seperti diketahui, sebelumnya Gaikindo telah merevisi proyeksi penjualan yang sebelumnya 850.000–900.000 unit menjadi 780.000 unit. Ternyata, total penjualan mobil – baik secata grosir dari pabrik ke dealer (wholesales) maupun penjualan eceran dari dealer ke konsumen alias penjualan ritel di tahun 2025 tersebut masih jeblok dibanding tahun 2024.

Data Gaikindo yang disitat Mobilitas di Jakarta, Minggu (11/1/2026) menunjukkan di periode tahun 2025 total wholesales mobil di Tanah Air sebanyak 803.687 unit. Jumlah tersebut merosot hingga 7,2 persen dibanding total wholesales di tahun 2024 yang mencapai 865.723 unit.

Sementara, total penjualan ritelnya sebanyak 833.692 unit. Jumlah penjualan eceran tersebut merosot hingga 6,3 persen dibanding periode tahun 2024 yang mencapai 889.680 unit.

Mobil Suzuki S-Presso – dok.Mobilitas

Ekonom Center of Economic and Law Studies atau CELIOS Nailul Huda yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Sabtu (10/1/2026) menyebut masih loyonya pasar otomotif kendaraan roda empat atau lebih di tahun 2025 selain dikarenakan lemahnya daya beli kelas menengah juga dikarenakan ada keraguan kelas sebagian kelas menengah dan atas terhadap prospek ekonomi nasional. Masih lemahnya daya beli karena tingkat pendapatan yang tidak sebanding dengan kenaikan biaya hidup.

Sedangkan di kelompok kelas menengah lapisan paling tinggi dan kelompok kelas atas yang masih memiliki daya beli tinggi, muncul tanda tanya seperti apa prospek fundamentl ekonomi nasional. Mereka mengkalkulasi apkah kondisi yang ada masih memungkinkn aset mereka bertambah atau sebaliknya, justeru menggerus aset, karena bisnis tak kondusif.

“Semua faktor itu membuat masyarakat lebih selektif dalam berbelanja atau menahan konsumsi, apalagi membeli barang non kebutuhan primer seperti kendaaraan,” papr Nailul. (Din/Aa)

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id