Jakarta, Mobilitas – Kesimpulan itu didasari hasil penelitian Universitas Sains dan Teknologi Hanoi Vietnam terhadap dari 5.600 kendaraan (baik listrik maupun konvensional) yang beroperasi di Vietnam. Penelitian dilakukan selama tahun 2020 hingga 2024.
Keterangan hasil riset tersebut yang dikutip Mobilitas di Jakarta, Jumat (6/2/2026) menyebut penelitian yang dipresentasikan oleh Direktur Program Pelatihan Teknik Otomotif di Universitas Sains dan Teknologi Hanoi, Prof. Dam Hoang Phuc itu menyebut setelah 12 tahun pemakaian, kemungkinan kerusakan kendaraan listrik jauh lebih rendah dibanding pada kendaraan konvensional.
Para peneliti menemukan fakta, ketika telah digunakan menempuh jarak sejauh 80.000-125.000 kilometer, mobil listrik ternyatamempertahankan kinerja yang stabil dengan keausan fisik yang minimal dan tidak signifikan. Dengan kata lain komponen mobil listrik ternyata lebih tahan lama seiring masa penggunaan.
“Ini dikarenakan struktur sistem penggerak mobil listrik yang lebih sederhana ketimbang mobil bensin (mobil konvensional). Selain sistem operasi sumber tenaga penggerak mobil listrik yang juga lebih simpel menjadikannya lebih rendah tingkat potensi kerusakkan yang dialami,” bunyi keterangan tersebut.

Dalam riset yang menggunakan model statistik Weibull itu diketahui, selama tiga tahun pertama, kendaraan listrik memiliki kemungkinan masalah yang lebih besar. Khususnya kesalahan perangkat lunak dan komponen elektronik, yakni 1,32 persen, sedangkan mobil konvensional hanya 0,87 persen.
Namun setelah mobil berusia di atas enam tahun, situasi kondisi sebaliknya terjadi. Itu sejalan dengan mulai ausnya komponen mekanis yang kompleks mesin pembakaran internal mobil konvensional.
Setelah 12 tahun mobil digunakan, tingkat kegagalan kumulatif mobil bensin mencapai 81,3 persen, sedangkan pada mobil listrik 62,7 persen. Bahkan setelah mobil berusia 15 tahun lebih, tingkat kegagalan komponen mobil konvensional 98,2 persen dan mobil listrik 86,3 persen. (Din/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id












