Penjualan Mobil Listrik RI Diprediksi Baru Bisa Lampaui Thailand Setelah 2040

0
1320
Ilustrasi, pengisian daya mobil listrik - dok.Vox

Jakarta, Mobilitas – Hasil riset BloombergNEF menunjukkan Thailand dan Indonesia merupakan pemain kunci pasar mobil listrik di Asia Tenggara.

Pemerintah dua negara itu terus saling berlomba membuat kebijakan yang merangsang investor baik pabrikan mobil listrik maupun komponen pendukungnya untuk berproduksi sekaligus memasarkan produk mereka di dalam negeri. Bahkan, produknya juga diorientasikan untuk ekspor.

Meski saat ini dulihat dari jumla produsen mobil setrum yang berinvestasi di Thailand untuk membangun pabrik masih jauh lebih banyak dibanding Indonesia. Begitu pun dengan penjualan mobil listrik yang terjual di Negeri Gajah Putih itu.

“Tahun lalu, penjualan mobil listrik di Thailand mencapai 51.000 unit (di Indonesia sesuai data Gaikindo 15.437 unit, didominasi hybrid). Jumlah tersebut diperkirakan akan mencapai 2,9 juta unit pada tahun 2040,” ungkap analis senior transportasi Asia-Pasifik BloombergNEF, Allen Tom Abraham, yang dikutip Mobilitas dari Bangkok Post, Jumat (7/7/2023).

Perkembangan pesat pasar mobil listrik Thailand, lanjut Abraham, didorong kebijakan promosi pemerintah untuk meningkatkan produksi mobil generasi baru yang lebih ramah lingkungan. Bahkan, di awal 2023, pemerintah negara yang biasa disebut dengan Siam ini kembali menyetujui paket insentif.

“Termasuk pemotongan pajak dan subsidi, untuk mendorong konsumsi dan produksi kendaraan listrik antara tahun 2022 dan 2023,” papar dia.

Namun, kejayaan Thailand sebagai pasar mobil setrum akan mentok di 2040 itu. Dan selanjutnya, Indonsia akan menjadi pemain utama. “Thailand ingin menjadi pemain besar di pasar EV regional (Asia Tenggara), tetapi setelah tahun 2040 Indonesia akan memimpin di segmen mobil penumpang karena besarnya pasar (jumlah penduduk),” kata Abraham.

Neta V, mobil listrik buatan Hozon Auto di yang dijual dan akan diproduksi di Thailand – dok.Hozon Auto

Selain faktor jumlah populasi yang mencapai 273 juta jiwa lebih dan Thailand hanya 69,7 juta jiwa lebih faktor ketersediaan bahan baku komponen menjadi penentu. Indonesia saat ini memiliki cadangan nikel (yang merupakan bahan baku utama baterai mobil listrik) hingga sekitar 22 persen lebih di dunia.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal BOI Narit Therdsteerasukdi yang dikutip The Nation belum lama ini dan dikutip Mobilitas, di Jakarta, Senin (3/7/2023) menyebut dari total investasi yang digelontorkan sejumlah pabrikan ke Thailand mencapai 86,8 miliar baht. Dana itu digunakan untuk produksi kendaraan listrik baterai (BEV), hybrid, dan plug-in hybrid.

“Sementara sisanya digunakan untuk pembuatan baterai, suku cadang, dan pemasangan stasiun pengisian daya,” kata dia.

Narit menjelaskan, sampai dengan akhir Mei lalu sudah ada 14 pabrikan yang mengucurkan investasi untuk berproduksi. Total produksi kendaraan setrum yang mereka hasilkan diperkirakan mencapai 270.000 unit saban tahunnya.

“Sebelas pabrikan tersebut sudah mulai memproduksi dan menjual kendaraan di Thailand, di antaranya MG (Morris Garage), Great Wall Motor, BYD, NETA (Hozon Autp Group), dan Foxconn,” jelas Narit. (Sir/Aa)