Jakarta, Mobilitas – PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (KTB) atau Mitsubishi Fuso Indonesia masih terus memantau hasil road test kendaraan niaga oleh pemerintah atau dalam hal ini Kementerian ESDM dalam mengggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar dengan campuran minyak kelapa sawit 50 persen (B50).
Fuso masih menunggu hasil khir tes saat kendaraan digunakan hingga jarak 50.000 kilometer (km) sebelum mandatori BBM itu diberlakukan secara resmi mulai 1 Juli 2026.
“Saat ini kami posisinya masih memanatau dan menunggu hasil akhir road test itu. Karena salah satu truk yang dites itu truk Fuso. DaN Seperti yang disampaikan Kementerian ESDM, sampai dengan penggunaan hingga jarak 35.000 kilometer tidak ada masalah secara teknis. Bahkan interval penggantian filter solar di mesin juga panjang, tetapi sekali lagi, kami menunggu hasil akhir road test,” ungkap Sales & Marketing Director PT KTB), Aji Jaya, saat ditemui Mobilitas di Booth Fuso, GIICOMVEC 2026, JIEXpo, Kemayoran, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Dengan mengetahui hasil akhir tes itu, lanjut Aji, pihaknya bisa menentukan langkah dalam mendukung operasional kendaraan truk milik pelanggan. “Karena sesuai tagline kami Fuso Andalan Bisnis Sejati, kami berusaha mendukung operasional truk milik pelanggan secara maksimal sehingga memberikan manfaat mencapai keuntungan yang maksimal pula. Termasuk bagaimana operasional cost-nya juga efisien,” jelas Aji.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara yang juga ditemui Mobilitas di area GIICOMVEC 2026, Rabu (8/4/2026), menyebut pihaknya melihat hasil road test kendaraan niaga dengan BBM B50 hingga jarak 35.000 km tidak ada masalah.
“Sampai jarak itu tidak masalah dan kendaraan yang dites itu berstandar Euro 4. Soal ada penggantian filter solar yang lebih banyak dibanding pakai solar biasa. Kan di jenis B40, lalu B30 juga begitu kan. Artinya, soal ganti filter lebih banyak itu sudah biasa. Masalahnya kan seberapa banyaknya itu, karena itu menyangkut tambahan biaya operasional,” papar Kukuh.
Namun masalah yang serius jika terjadi adalah kalau pasokan B50 tersebut tidak konstan dan merat a di seluruh wilayah Indonesia. Sebab jika itu terjadi akan mengganngu operasional bisnis pengguna truk, bisnis pun terancam tidak lancar, sehingga berdampak pada keuntungan perusahaan dn imbasnya secara makro menggnngu pertumbuhan ekonomi.
“Nah untuk pasokan ini yang patut dipertanyakan soal pasokan minyak sawitnya. Cukup enggak, dan itu menyangkut produktivitas sawit dan CPO (minyak sawit mentah). Kepastian ini yang diperlukan,” tandas Kukuh. (Jrr/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id












