<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>korban kecelakaan &#8211; Mobilitas.id</title>
	<atom:link href="https://www.mobilitas.id/tag/korban-kecelakaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.mobilitas.id</link>
	<description>Media otomotif mobilitas.id</description>
	<lastBuildDate>Tue, 10 Oct 2023 03:58:10 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2024/09/cropped-favim-80x80.png</url>
	<title>korban kecelakaan &#8211; Mobilitas.id</title>
	<link>https://www.mobilitas.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Mayoritas Korban Berusia Produktif, Kecelakaan Lalu-lintas Bikin Miskin Keluarga</title>
		<link>https://www.mobilitas.id/mayoritas-korban-berusia-produktif-kecelakaan-lalu-lintas-bikin-miskin-keluarga/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arif Arianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Oct 2023 03:57:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Mobility]]></category>
		<category><![CDATA[akibat kecelakaan]]></category>
		<category><![CDATA[dampak kecelakaan lalu-lintas]]></category>
		<category><![CDATA[Jasa Raharja]]></category>
		<category><![CDATA[jumlah kasus kecelakaan]]></category>
		<category><![CDATA[kasus kecelakaan]]></category>
		<category><![CDATA[kecelakaan lalu-lintas]]></category>
		<category><![CDATA[kecelakaan mobil]]></category>
		<category><![CDATA[kecelakaan motor]]></category>
		<category><![CDATA[korban kecelakaan]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab kecelakaan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.mobilitas.id/?p=14745</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Mobilitas – Hasil penelitian PT Jasa Raharja...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Mobilitas</strong> – Hasil penelitian PT Jasa Raharja (Persero) 66,5 persen korban kecelakaan merupakan pria berusia produktif yang menjadi tulang punggung keluarga.</p>
<p>Direktur Utama Jasa Raharja, Rivan A.Purwantono dalam keterangan resmi yang diterima <em>Mobilitas</em>, di Jakarta, Selasa (10/10/2023) mengatakan akibat kecelakaan lalu-lintas tersebut keluarga korban juga merasakan dampaknya.</p>
<p>“Kami telah melakukan survei. Hasilnya menunjukkan, lebih dari 50 persen dari mereka yang terdampak kecelakaan mengalami kemiskinan. Karena mereka menjadi tulang punggung keluarga dan tidak mamu lagi memberikan dukungan ekonomi bagi keluarga mereka,” papar Rivan.</p>
<p>Bahkan, lanjut Rivan, tidak sedikit dari mereka yang terlibat kecelakaan meninggal dunia. Padahal, sebgaian besar mereka menjadi andalan ekonomi keluarga. Dan mirisnya tren jumlah korban meninggal dalam kasus kecelakaan lalu-lintas itu semakin meningkat.</p>
<p>Data Korps Lalu-lintas Polri yang dikutip Rivan menunjukkan, sepanjang tahun 2020 jumlah kasus kecelakaan sebanyak 100.028 kejadian. Kasus tersebut menyebabkan 23.529 korban meninggal dunia, 10.752 orang mengalami luka berat, dan 10.553 orang luka ringan.</p>
<p>Kemudian, pada tahun 2021 total kasus kecelakaan yang terjadi sedikit menurun menjadi 103.645 kejadian. Namun, jumlah korban meninggal dari kasus tersebut justeru meningkat menjadi 25.266 orang, 10.556 orang mengalami luka berat, dan 117.913 orang luka ringan.</p>
<figure id="attachment_4549" aria-describedby="caption-attachment-4549" style="width: 700px" class="wp-caption alignnone"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-4549" src="https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2021/12/Ilustrasi-truk-trailer-yang-mengalami-kecelakaan-parah-dok.Istimewa-e1639990922187.jpg" alt="" width="700" height="503" /><figcaption id="caption-attachment-4549" class="wp-caption-text">Ilustrasi, truk yang mengalami kecelakaan parah di jalan tol &#8211; dok.Istimewa</figcaption></figure>
<p>Lalu di tahun 2022, jumlah kecelakaan yang terjadi mencapai 230.965 kejadian. Dari jumlah kasus tersebut 29.378 orang korban meninggal dunia, dan 249.143 orang mengalami luka berat dan ringan.</p>
<p>Pengamat transportasi yang juga mantan Kepala Subdirektorat Pembinaan dan Penegakkan Hukum Polda Metro Jaya, Budiyanto, yang dihubungi <em>Mobilitas</em>, di Jakarta, Selasa (10/10/2023) mengatakan maraknya kasus kecelakaan di Tanah Air disebut oleh tiga hal.</p>
<p>Pertama, pengemudi (manusia), faktor kendaraan (teknis), dan faktor kondisi jalan.<br />
“Dari kasus-kasus kecelakaan yang terjadi di jalan raya, terlihat faktor ketidak disiplinan pengguna kendaraan menjadi penyebab. Mulai dari melanggar rambu, baik menerobos lampu merah, melawan arus, melampuai batas kecelakaan, hingga ketidakterampilan dalam menguasai atau mengemudikan kendaraan,” papar dia.</p>
<p>Selain itu, faktor kelayakan kendaraan. Faktor ini terlihat dari fu8ngsi rem yang sudah tidak layak, lampu hingga klakson yang tidak berfungsi, bahkan ban dan komponen lain darin kendaraan yang sudah aus tetapi kendaraan tetap digunakan.</p>
<p>“Yang ketiga karena faktor kondisi jalan dan alam yang menimbulkan kerawanan. Kondisi geometri jalan yakni tingkat kemiringan permukaan jalan yang tinggi serta menikung yang tajam menjadikan kendaraan rawan sulit dikendalikan. Dan satu hal lagi faktor cuaca yang juga berpengaruh ke kondisi alam yang membahayakan pengguna kendaraan,” papar Budiyanto.</p>
<p>Oleh karena itu, dia mewanti-wanti kepada pengguna kendaraan untuk disiplin mematuhi peraturan lalu-lintas yang diisyaratkan melalui rambu. Kedua, memeriksa kondisi kelayakan kendaraan, dan ketiga mencermati keadaan alam atau jalan agar bisa menyesuaikan gaya berkendara. (Jap/Aa)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mentalitas Buruk, Akar Penyebab Kecelakaan Lalu-lintas di RI</title>
		<link>https://www.mobilitas.id/mentalitas-buruk-akar-penyebab-kecelakaan-lalu-lintas-di-ri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arif Arianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 06 Nov 2021 08:30:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Mobility]]></category>
		<category><![CDATA[faktor human error]]></category>
		<category><![CDATA[kecelakaan]]></category>
		<category><![CDATA[kecelakaan di jalan tol]]></category>
		<category><![CDATA[kecelakaan lalu-lintas]]></category>
		<category><![CDATA[korban kecelakaan]]></category>
		<category><![CDATA[lalu-lintas]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab kecelakaan]]></category>
		<category><![CDATA[vanessa Angel]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mobilitas.id/?p=3939</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Mobilitas – Kecelakaan lalu-lintas di Indonesia yang...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Mobilitas</strong> – Kecelakaan lalu-lintas di Indonesia yang hingga kini masih marak, terus menjadi perhatian dan keprihatinan publik di Tanah Air. Dari peristiwa itu, tak sedikit yang berujung pada hilangnya nyawa korban, dan sebagian luka berat maupun ringan.</p>
<p>Bahkan kasus terbaru, yakni pada hari Kamis (4/11/2021) guru besar Universitas Gajah Mada (UGM) I Gede Suparta Budisatria meninggal karena kecelakaan di ruas Jalan Tol Cipali KM 113 dan pasangan selebriti Vanessa Angel dan Febri Ardiansyah juga meninggal setelah mobil yang ditumpanginya menabrak pembatas jalan di ruas Tol Jombang KM 672.</p>
<p>Pemerhati masalah transportasi yang juga mantan Kepala Subdirektorat Penegakkan Hukum Ditlantas Polda Metro Jaya, Budiyanto, yang dihubungi <em>Mobilitas</em>, di Jakarta, Sabtu (6/11/2021) menduga kasus kecelakaan yang merenggut jiwa pasangan Vanessa – Febri diduga kuat karena <em>human error</em>.</p>
<figure id="attachment_3941" aria-describedby="caption-attachment-3941" style="width: 700px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-3941" src="https://mobilitas.id/wp-content/uploads/2021/11/Kecelakaan-mobil-yang-ditumpangi-Vanessa-Angel-dan-suaminya-di-Tol-Jombang-Jawa-Timur-dok.Facebook-e1636186839421.jpg" alt="" width="700" height="517" /><figcaption id="caption-attachment-3941" class="wp-caption-text">Kecelakaan mobil yang ditumpangi Vanessa Angel dan suaminya di Tol Jombang, Jawa Timur pada kamis, 4 November 2021 &#8211; dok.Facebook</figcaption></figure>
<p>“Bukan mendahului hasil penyelidikan pihak yang berwenang. Namun, dari keterangan awal yang digali oleh petugas di lapangan. Termasuk dari olah kejadian di TKP (tempat kejadian perkara) yang disebut tidak ada bekas-bekas mobil direm, patut diduga atau dugaan sementara, kecelakaan dikarenakan <em>human error</em> yakni supir mengantuk,” papar Budiyanto.</p>
<p>Menurut dia, aspek keteledoran atau kealpaan manusia sebagai penyebab kecelakaan lalu-lintas di Tanah Air bukanlah terjadi akhir-akhir ini, tetapi sudah sejak lama. Bahkan, dari jumlah kasus kecelakaan yang terjadi &#8211; baik di jalan tol maupun jalan non tol – selama ini, sekitar 80% lebih dikarenakan <em>human error</em>.</p>
<p>“Bentuk <em>human error</em> ini bermacam-macam, mulai dari mengantuk, pengaruh alkohol atau obat-obatan dan narkotika, melanggar rambu, melampaui batas kecepatan, beralih jalur dengan tidak semestinya, menggunakan ponsel, melanggar marka, menerabas lampu merah, hingga mekawan arus, dan lain-lain. Intinya, semua itu berawal dari pelanggaran dari ketentuan yang ditetapkan,” kata Budi.</p>
<figure id="attachment_360" aria-describedby="caption-attachment-360" style="width: 700px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-360" src="https://mobilitas.id/wp-content/uploads/2021/04/Kecelakaan-lalu-lintas-yang-melibatkan-truk-dan-mobil-dok.TMC-Polda-Metro-Jaya-e1619350778912.jpg" alt="" width="700" height="492" /><figcaption id="caption-attachment-360" class="wp-caption-text">Kecelakaan lalu-lintas yang melibatkan truk dan mobil &#8211; dok.TMC Polda Metro Jaya</figcaption></figure>
<p>Pernyataan serupa diungkapkan Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno. Pria yang juga pengajar di Fakultas Teknik Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang, itu menyodorkan data dari Korps Lalu Lintas Kepolisan Negara Republik Indonesia (Korlantas).</p>
<p>“Data itu menunjukkan, dalam satu jam, satu hingga tiga orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Dalam sehari sekitar 80 orang tewas seketika di jalan raya. Korban terbanyak pesepeda motor yaitu sekitar 75%,” kata dia saat dihubungi <em>Mobilitas</em> dari Jakarta, Sabtu (6/11/2021).</p>
<figure id="attachment_3462" aria-describedby="caption-attachment-3462" style="width: 700px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-3462" src="https://mobilitas.id/wp-content/uploads/2021/10/Kecelakaan-lalu-lintas-yang-melibatkan-sepeda-motor-korbannya-terbanyak-orang-muda-pada-usia-masa-produktif-dok.Istimewa-e1634616375505.jpg" alt="" width="700" height="499" /><figcaption id="caption-attachment-3462" class="wp-caption-text">Kecelakaan lalu-lintas di Indonesia banyak melibatkan sepeda motor dengan korban berusia muda atau dalam usia masa produktif &#8211; dok.Istimewa</figcaption></figure>
<p><strong>Mentalitas buruk</strong><br />
Seperti halnya Budiyanto, Djoko menyebut secara umum, faktor kealpaan manusia atau <em>human error</em> sebagai penyebab yang mayoritas, selain faktor teknis baik infrsatruktur jalan maupun kendaraan. Sementara, akar dari <em>human error</em> adalah mentalitas buruk yang ada di masyarakat.</p>
<p>“Pelanggaran terhadap aturan dianggap lumrah, karena berawal dari hal-hal yang kecil. Misalnya, memarkir kendaraan di tikungan atau belokan yang dianggap sebagai sesuai yang baiasa. Melawan arus, lempaui kecepatan. Sehingga, lama kelamaan masyarakat permisif terhadap perilaku yang melanggar akhirnya menjadi semacam budaya,” ujar Djoko.</p>
<p>Budiyanto mengamini pernyataan Djoko. Bahkan dia menyebut karena mentalitas yang buruk itu pula, akhirnya muncul perilaku egois di jalanan (baik di jalan tol maupun jalan biasa), dan juga dianggap sebagai sesuatu yang lumrah.</p>
<figure id="attachment_3942" aria-describedby="caption-attachment-3942" style="width: 700px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-3942" src="https://mobilitas.id/wp-content/uploads/2021/11/Kebiasaan-buruk-yang-juga-melanggar-aturan-adalah-menyetir-sambil-menggunakan-ponsel-dok.eDriving-e1636187006585.jpg" alt="" width="700" height="510" /><figcaption id="caption-attachment-3942" class="wp-caption-text">Kebiasaan buruk yang kerap terjadi tetapi dianggap biasa adalah menyetir sambil menggunakan ponsel. Padahal, kegiatan seperti itu melanggar aturan &#8211; dok.Istimewa</figcaption></figure>
<p>Pengguna mobil karena merasa “superior” karena mobilnya kelas atas dengan seenaknya bermanuver mematong laju kendaraan lain dengan kecepatan tinggi di tol. Mereka seolah tak pernah memikirkan dampak risiko fatal bagi orang lain alais tak peduli dengan orang lain.</p>
<p>“Kebanyakan pengguna kendaraan akan berlaku tertib ketika ada petugas. Ini contoh lain dari tidak baiknya mentalitas tersebut,” ucap Budi.</p>
<p>Dia mengutip data kecelakaan lalu lintas tahun 2015 sampai dengan tahun 2020, yang dihimpun Korlantas Polri. Data itu menyebut selama rentang waktu itu terdapat 528.058 kasus kecelakaan dengan korban meninggal dunia sebanyak 164.093 orang.</p>
<figure id="attachment_3944" aria-describedby="caption-attachment-3944" style="width: 700px" class="wp-caption alignnone"><img loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-3944" src="https://mobilitas.id/wp-content/uploads/2021/11/Memacu-mobil-dengan-kecepatan-yang-melebihi-batas-sesuai-ketentuan-sering-terjadi-di-jalan-tol-dok.Istimewa-via-Mackay-News-e1636187404413.jpg" alt="" width="700" height="494" /><figcaption id="caption-attachment-3944" class="wp-caption-text">Memacu mobil dengan kecepatan yang melebihi batas sesuai ketentuan sering terjadi di jalan tol &#8211; dok.Istimewa via Mackay News</figcaption></figure>
<p>“Dari pengakuan orang-orang yang terlibat kecelakaan, hasuil penyelidikan, maupun keterangan saksi 80% kecelakaan itu dikarenakan faktor manusia. Selebihnya faktor lain,” imbuh Budi. (Din/Jrr/Aa)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
