<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>nilai tukar rupiah &#8211; Mobilitas.id</title>
	<atom:link href="https://www.mobilitas.id/tag/nilai-tukar-rupiah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.mobilitas.id</link>
	<description>Media otomotif mobilitas.id</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 May 2026 06:51:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2024/09/cropped-favim-80x80.png</url>
	<title>nilai tukar rupiah &#8211; Mobilitas.id</title>
	<link>https://www.mobilitas.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Rupiah Melemah,  Industri Komponen Otomotif Beri Sinyal Harga Bisa Tiba-tiba Naik</title>
		<link>https://www.mobilitas.id/rupiah-melemah-industri-komponen-otomotif-beri-sinyal-harga-bisa-tiba-tiba-naik/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arif Arianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 May 2026 06:00:55 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Harga spareparts]]></category>
		<category><![CDATA[komponen mobil]]></category>
		<category><![CDATA[komponen motor]]></category>
		<category><![CDATA[komponen otomotif]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tukar rupiah]]></category>
		<category><![CDATA[produksi komponen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.mobilitas.id/?p=27956</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Mobilitas – Nilai tukar rupiah terhadap dolar...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Mobilitas</strong> – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026 hingga siang ini bergerak melemah dan sempat menyentuh kisaran Rp 17.743 &#8211; Rp 17.760 per dolar AS. Kondisi diakui membuat industri produsen komponen atau spareparts mobil maupun motor kesulitan untuk bertahan.</p>
<p>Terlebih, seperti diungkap Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmat Basuki, banyak bahan baku komponen buatan lokal yang harus diimpor. Beberapa bahan itu antara lain plastik, alumunium, baja, dan beberapa materil lainnya.</p>
<p>&#8220;Kondisi ini semakin sulit, karena pasokan bahan baku juga <em>seret</em>, akibat ketegangan geopolitik. Sehingga, industri komonen nasional harus bertahan meskipun mrgin terus tergerus,&#8221; ungkap Basuki saat dihubungi <em>Mobilitas</em> di Jakarta, Rabu (20/5/2026).</p>
<p>Basuki menyebut untuk melakukan koreksi harga dengan serta merta menaikkan harga jual, tidak bisa. Pasalnya, perusahaan pembuat komponen (anggota GIAMM sekitar 250 – 300 perusahaan) terikat kontrak dengan harga yang disepakati sebelumnya bersama konsumen penyerapnya yakni pabrikan mobil dan motor.</p>
<figure id="attachment_25145" aria-describedby="caption-attachment-25145" style="width: 700px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2025/08/Suku-Cadang-Tiga-Berlian-yang-berharga-lebih-kompetitif-dok.Mobilitas-e1754033330107.jpg"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-25145" src="https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2025/08/Suku-Cadang-Tiga-Berlian-yang-berharga-lebih-kompetitif-dok.Mobilitas-e1754033330107.jpg" alt="" width="700" height="496" /></a><figcaption id="caption-attachment-25145" class="wp-caption-text">Ilustrasi Suku Cadang Truk &#8211; dok.Mobilitas</figcaption></figure>
<p>&#8220;Jadi untuk menaikkan harga jual <em>spareparts</em> ini, kita menunggu dulu <em>review</em> yang dilakukan produsen mobil maupun motor yang menjadi produk kita. Jadi kalu nanti hasil review menunjukkan perlu koreksi harga seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, maupun langkanya bahan baku, ya kita naikkan harga itu,&#8221; papar Basuki.</p>
<p>Tetapi, lanjut Basuki, jika melihat tren kondisi global dan potensi tren nilai tukar sepertinya kemungkinan untuk menerek harga bakal terjadi. &#8220;Industri semakin sulit jika tidak menyesuaikan harga,&#8221; tandsr Basuki.</p>
<p>Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty yang dihubungi <em>Mobilitas</em> di Jakarta, Rabu (20/5/2026) mengaku bisa memaklumi jika industri komponen mengerek harga jua produknya.</p>
<p>&#8220;Karena infustri otomotif termasuk industri komponen pendukungnya, itu merupaka salah satu industri dengan bahan baku impor yang cukup tinggi. Sementara nilai tukar untuk impor nilainya melemah. Lebih dari itu jejaring pasokan bahan baku terganggu akibat ketegangan geopolitik. Itu membuat ongkos angkutnya meningkat karena harus melalui jalur alternatif. Lalu reasuransi pengiriman tarif preminya juga naik,&#8221; jelas Telisa. (Tom/Aa)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Rupiah Terus Melemah, Ini Potensi Dampak Buruk Bagi Industri Otomotif RI</title>
		<link>https://www.mobilitas.id/rupiah-terus-melemah-ini-potensi-dampak-buruk-bagi-industri-otomotif-ri/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arif Arianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 May 2024 13:22:48 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[dampak lemahnya nilai tukar rupiah]]></category>
		<category><![CDATA[harga mobil]]></category>
		<category><![CDATA[harga mobil impor]]></category>
		<category><![CDATA[impor mobil]]></category>
		<category><![CDATA[kurs rupiah terhadap dolar AS]]></category>
		<category><![CDATA[nilai tukar rupiah]]></category>
		<category><![CDATA[penjualan mobil industri mobil]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.mobilitas.id/?p=17964</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Mobilitas – Harga jual mobil bakal terkerek...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Mobilitas</strong> – Harga jual mobil bakal terkerek jika pelemahan nilai tukar terus terjadi, dan komponen mobil yang diproduksi di Indonesia banyak berasaal dari luar negeri, atau mobil diimpor secara utuh (CBU).</p>
<p>Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie Sugiarto yang dihubungi <em>Mobilitas</em> di Jakarta, Rabu (1/5/2024) mengatakan, meski secara umum pabrikan atau agen pemegang merek mobil di Indonesia telah melakukan <em>hedging</em> (lindung nilai dari mata uang) dalam melakukan impor, namun hedging biasanya ada jangka waktu masa berlakunya.</p>
<p>“Jadi <em>hedging</em> itu kan lindung nilai dengan cara membuat kesepakatan dalam proses impor itu disepakati nilai tukar rupiah berada dalam besaran berapa terhadap mata uang asing yang digunakan, misalnya dolar AS. Jika masa <em>hedging</em> telah berkahir, dan nilai tukar rupiah masih melemah, maka mau tidak mau nilai impornya menggunakan kurs yang berlaku saat itu. Itu yang dikhawatirkan, harga jual mobil akan meningkat,” papar Jongkie.</p>
<p>Oleh karena itu, lanjut Jongkie, kalangan industri berharap melemahnya nilai tukar ini segera bisa diatasi. Sehingga, kata dia,dari kepentingan konsumen, kondisi tersebut tidak memberatkan karena harga jual mobil tidak melonjak.</p>
<figure id="attachment_4214" aria-describedby="caption-attachment-4214" style="width: 700px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-4214" src="https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2021/11/SUV-Kia-Sonet-saat-dipamerkan-di-GIIAS-2021-dok.Mobilitas.id_-e1637744310266.jpg" alt="" width="700" height="506" /><figcaption id="caption-attachment-4214" class="wp-caption-text">SUV Kia Sonet diimpor oleh Kia Indonesia- dok.Mobilitas.id</figcaption></figure>
<p>Sementara, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira Adhinegara yang dihubungi <em>Mobilitas</em> di Jakarta, Rabu (1/5/2024) menyebut semakin tingginya nilai tukar dolar AS terhadap rupiah menjadi simalakama.</p>
<p>“Karena dari kepentingan konsumen, itu musibah. Tetapi bagi eksportir itu berkah, karena nilai dari hasil ekspornya meningkat. Tetapi, kalau bicara secara umum, apakah volume ekspor kita memang benar-benar besar?,Padahal, tingginya dolar AS terhadap rupiah itu sangat membebani pemerintah terutama dalam pembayaran pokok dan bunga utang nasional. Kalau ini semakin berat maka ekonomi nasional jelas semakin tidak bagus,” papar Bhima.</p>
<p>Terlebih, pada saat ini kinerja ekspor produk non migas Indonesia jeblok, termasuk ekspor popduk kendaraan atau otomotif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disitat <em>Mobilitas</em> di Jakarta, Rabu (1/5/2024) sepanjang Januari &#8211; Maret 2024 nilai ekspor non migas sebesar US$ 58,3 miliar, atau ambles 7,53 persen dibanding periode sama di tahun 2023.</p>
<p>Di kelompok komoditas non migas ini termasuk produk kendaraan dan komponennya. Selama tiga bulan pertama itu, ekspor kendaraan dan komponen nilainya ambles 9,64 persen dibanding kuartal I 2023.</p>
<figure id="attachment_13709" aria-describedby="caption-attachment-13709" style="width: 700px" class="wp-caption alignnone"><img decoding="async" class="size-full wp-image-13709" src="https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2023/08/Peluncuran-All-New-Alphard-oleh-PT-Toyota-Astra-Motor-di-GIIAS-2023-dok.Istimewa-e1691677314422.jpg" alt="" width="700" height="504" /><figcaption id="caption-attachment-13709" class="wp-caption-text">All New Alphard yang diimpor oleh Toyota Indonesia &#8211; dok.Istimewa</figcaption></figure>
<p>“Padahal, penopang nilai tukar itu sangat dipengaruhi oleh kinerja ekspor dan seberapa besar nilai impor. Kalau nilai ekspor timpang atau defisit, maka nilai tukar rupiah akan melemah,&#8221; ujar Bhima.</p>
<p>Jika nilai tukar rupiah terus melemah, lanjt mantan Ekonom Indef itu, maka inflasi akan meninggi. Sedangkan jika inflasi meninggi, maka ekonomi nasional akan semakin melemah dan daya beli masyarakat merosot.</p>
<p>&#8220;Jadi, kalau bicara industri otomotif, dalam kondisi nilai tukar rupiah lemah seperti itu, harga jual kendaraan berpotensi naik, tetapi di saat yang sama daya beli masyarakat melemah. Industri jelas pasti akan terdampak,” ujar Bhima. (Yan/Aa)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
