<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>PPnBM mobil Hybrid &#8211; Mobilitas.id</title>
	<atom:link href="https://www.mobilitas.id/tag/ppnbm-mobil-hybrid/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.mobilitas.id</link>
	<description>Media otomotif mobilitas.id</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Jan 2025 15:41:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2024/09/cropped-favim-80x80.png</url>
	<title>PPnBM mobil Hybrid &#8211; Mobilitas.id</title>
	<link>https://www.mobilitas.id</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ternyata Tarif PPN Sampai Akhir Januari 2025 Masih 11 Persen, Ini Alasan dan Dasar Hukumnya</title>
		<link>https://www.mobilitas.id/ternyata-tarif-ppn-sampai-akhir-januari-2025-masih-11-persen-ini-alasan-dan-dasar-hukumnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arif Arianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Jan 2025 07:00:20 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[131 Tahun 2024]]></category>
		<category><![CDATA[insentif pajak mobil hybrid]]></category>
		<category><![CDATA[pemberlakuan PPN 12 persen]]></category>
		<category><![CDATA[PPN 12 persen produk otomotif]]></category>
		<category><![CDATA[PPN Mobil listrik]]></category>
		<category><![CDATA[PPnBM mobil Hybrid]]></category>
		<category><![CDATA[PPnBM Mobil Listrik]]></category>
		<category><![CDATA[Tarif PPN 12 Persen]]></category>
		<category><![CDATA[wajib pajak]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.mobilitas.id/?p=22152</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Mobilitas – Ternyata, meski diumumkan mulai berlaku...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Mobilitas</strong> – Ternyata, meski diumumkan mulai berlaku 1 Januari 2025, pemberlakuan secara penuh kenaikan tarif PPN dari 11 persen menjadi 12 persen ada masa transisinya.</p>
<p>Hal itu terlihat dari ketentuan yang ada pada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 131 Tahun 2024 yang dinukil <em>Mobilitas</em> di Jakarta, Kamis (2/1/2024). Pasal 5 huruf a PMK 131/2024 menyebut. “Mulai tanggal 1 Januari 2025 sampai dengan tanggal 31 Januari 2025, PPN terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif 12 persen dengan Dasar Pengenaan Pajak (DPP) berupa nilai lain,” bunyi ayat huruf a di Pasal 5 itu.</p>
<p>Nilai lain DPP yang dimaksud adalah 11/12 (11 persen per 12 persen) dari harga jual barang. Sehingga, jika DPP itu dikalikan dengan baru PPN sebesar tarif 12 persen, maka tarif efektif PPN untuk masa Januari 2025 atas penyerahan barang mewah adalah 11 persen.</p>
<p>Sementara itu, pada Pasal 5 huruf b PMK 131/2024 disebutkan bahwa mulai tanggal 1 Februari 2025 berlaku ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) PMK 131/2024. PPN dikenakan sebesar 12 persen dari harga jual atau nilai impor barang yang bersangkutan.</p>
<p>Analis Madya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan RI, Rustam Effendi, yang dihubungi <em>Mobilitas</em> di Jakarta, Kamis 92/1/2025) mengatakan ketentuan yang pada Pasal 5 PMK 131 Tahun 2024 itu merupakan masa toleransi bagi barang-barang terkena PPN sebelum dikenai tarif baru. Hal ini, kata dia, untuk memberikan masa transisi sebelum menjalani aturan baru secara penuh.</p>
<figure id="attachment_19359" aria-describedby="caption-attachment-19359" style="width: 700px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2024/07/Ilustrasi-kredit-sepeda-motor-dok.Istimewa-via-First-Response-Finance-e1721881265515.webp"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-image-19359" src="https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2024/07/Ilustrasi-kredit-sepeda-motor-dok.Istimewa-via-First-Response-Finance-e1721881265515.webp" alt="" width="700" height="502" srcset="https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2024/07/Ilustrasi-kredit-sepeda-motor-dok.Istimewa-via-First-Response-Finance-e1721881265515.webp 700w, https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2024/07/Ilustrasi-kredit-sepeda-motor-dok.Istimewa-via-First-Response-Finance-e1721881265515-180x130.webp 180w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></a><figcaption id="caption-attachment-19359" class="wp-caption-text">Ilustrasi, sepeda motor dengan kapasitas mesin besar- dok.Istimewa via First Response Finance</figcaption></figure>
<p>“Sehingga tidak terjadi permasalahan baru dalam transaksi maupun pelaporan terkait besaran harga karena pajak ini. Transisi ini untuk semua produk yang terkena PPN 12 persen, termasuk produk otomotif,” tutur Rustam.</p>
<p>Pernyataan senada diungkap Direktur Jenderal Pajak, Suryo Utomo, saat media briefing di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Kamis (2/1/2025). “Jadi, pada prinispnya kami memberikan keluangan waktu melalui masa transisi (bagi wajib pajak),” ujar Suryo.</p>
<p>Dia menegaskan, transisi tersebut diberikan perusahaan kena pajak selaku pemungut pajak bisa menyesuaikan faktur pajaknya yang sebelumnya dengan dasar penghitungannya tarif PPN tarif 11 persen sebelum menggunakan dasar tarif baru yaitu 12 persen.</p>
<p>&#8220;Sebab, faktur pajak yang dibuat wajib pajak sebagian besar sudah dalam dokumen digital yang tersistem, sehingga perlu waktu pengubahan sistem ini. Oleh karena itu, kami beri rentang waktu yang cukup bagi teman-teman wajib pajak untuk menyiapkan sistemnya,&#8221; papar Suryo. (Tan/Epi/Aa)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ingat, Mobil Hybrid yang Penuhi Syarat Ini Saja yang Berhak Insentif PPnBM DTP 3 Persen</title>
		<link>https://www.mobilitas.id/ingat-mobil-hybrid-yang-penuhi-syarat-ini-saja-yang-berhak-insentif-ppnbm-dtp-3-persen/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Arif Arianto]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Dec 2024 06:00:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Mobility]]></category>
		<category><![CDATA[diskon tarif PPnBM untuk mobil hybrid]]></category>
		<category><![CDATA[HL]]></category>
		<category><![CDATA[insentif mobil hybrid]]></category>
		<category><![CDATA[PPnBM DTP 3 persen]]></category>
		<category><![CDATA[PPnBM mobil Hybrid]]></category>
		<category><![CDATA[produksi mobil hybrid]]></category>
		<category><![CDATA[stimulus ekonomi untuk industri otomotif]]></category>
		<category><![CDATA[syarat mobil hybrid dapar insentif tarif PPnBM DTP 3 persen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.mobilitas.id/?p=21875</guid>

					<description><![CDATA[Jakarta, Mobilitas – Pemerintah melalui Menteri Koordinator Perekonomian...]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jakarta, Mobilitas</strong> – Pemerintah melalui Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto telah menyatakan memberi stimulus perpajakan berupa pengurangan besaran tarif melalui tarif Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 3 persen Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil hybrid.</p>
<p>Dengan kata lain, jika saat ini tarif PPnBM untuk mobil hybrid – misalnya – sebesar 12 persen, maka mulai 1 Januari 2025 hanya sebesar 9 persen. Sebab, besaran tarif semula atau yang ada tersebut dikurangi 3 persen.</p>
<p>Namun, seperti diungkap Analis Madya Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Rustam Effendi, insentif DTP 3 persen itu hanya diberikan kepada mobil hybrid yang memenuhi syarat yang telah ditetapkan.</p>
<p>Syaratnya, kata Rustam, produsen pembuat mobil hybrid &#8211; baik hybrid ringan maupun full hybrid-  telah mengikuti program LCEV (Low Carbon Emission Vehicle). Program itu ditetapkan pemerintah melalui Permenperin (Peraturan Menterin Perindustrian) Nomor 36 Tahun 2021.</p>
<figure id="attachment_13500" aria-describedby="caption-attachment-13500" style="width: 700px" class="wp-caption aligncenter"><a href="https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2023/08/Proses-produksi-mobil-Toyota-berteknologi-hybrid-di-pabrik-milik-PT-TMMIN-dok.TMMIN_-e1690827924852.jpg"><img decoding="async" class="size-full wp-image-13500" src="https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2023/08/Proses-produksi-mobil-Toyota-berteknologi-hybrid-di-pabrik-milik-PT-TMMIN-dok.TMMIN_-e1690827924852.jpg" alt="" width="700" height="506" srcset="https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2023/08/Proses-produksi-mobil-Toyota-berteknologi-hybrid-di-pabrik-milik-PT-TMMIN-dok.TMMIN_-e1690827924852.jpg 700w, https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2023/08/Proses-produksi-mobil-Toyota-berteknologi-hybrid-di-pabrik-milik-PT-TMMIN-dok.TMMIN_-e1690827924852-300x217.jpg 300w, https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2023/08/Proses-produksi-mobil-Toyota-berteknologi-hybrid-di-pabrik-milik-PT-TMMIN-dok.TMMIN_-e1690827924852-150x108.jpg 150w, https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2023/08/Proses-produksi-mobil-Toyota-berteknologi-hybrid-di-pabrik-milik-PT-TMMIN-dok.TMMIN_-e1690827924852-696x503.jpg 696w, https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2023/08/Proses-produksi-mobil-Toyota-berteknologi-hybrid-di-pabrik-milik-PT-TMMIN-dok.TMMIN_-e1690827924852-581x420.jpg 581w, https://www.mobilitas.id/wp-content/uploads/2023/08/Proses-produksi-mobil-Toyota-berteknologi-hybrid-di-pabrik-milik-PT-TMMIN-dok.TMMIN_-e1690827924852-324x235.jpg 324w" sizes="(max-width: 700px) 100vw, 700px" /></a><figcaption id="caption-attachment-13500" class="wp-caption-text">Proses produksi mobil Toyota berteknologi hybrid di pabrik milik PT TMMIN &#8211; dok.TMMIN</figcaption></figure>
<p>&#8220;Yang kedua, mobil-mobil hybrid itu diproduksi lokaal atau di Indonesia,” tandas Rustam saat dihubungi <em>Mobilitas</em> di Jakarta, Rabu (18/12/2024).</p>
<p>Sementara, seperti dinyatakan di Pasal 6 Permenperin Nomor 36 Tahun 2021 itu, mobil hybrid yang bisa mengikuti program LCEV itu adalah mobil (baik bermesin bensin maupun diesel) dengan isi silinder mesin sampai dengan 4.000 cc. Kemudian, untuk tingkat konsumsi bahan bakarnya minimal 15,5 kilometer per liter (kpl) untuk mesin bensin, serta 17,5 kpl untuk mobil bermesin diesel.</p>
<p>“Selain itu, karena syaratnya adalah mobil yang diproduksi di dalam negeri atau lokal, tentu Tingkat Kandungan (komponen) Dalam Negeri atau TKDN juga diperhatikan. Nah, itu yang menetapkan Kementerian Perindustrian,” ujar Rustam. (Jrr/Aa)</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
