Mobility

Truk Usia Tua Boros BBM Bikin Biaya Logistik Indonesia Tak Efisien

×

Truk Usia Tua Boros BBM Bikin Biaya Logistik Indonesia Tak Efisien

Share this article
Ilustrasi, truk pengangkut barang ke pelabuhan - dok.Revolution Trucking

Jakarta, Mobilitas – Bank Dunia menyebut biaya logistik Indonesia masih mahal dan jauh di atas standar global khususnya di negara-negara maju yang sebesar 8 – 9 persen dari Produk Domestik Brutto (PDB).

Sementara, di Indonesia, pada tahun 2025 lalu, biaya logistik Indonesia masih 14 persen dari PDB. Bahkan di tahun-tahun sebelumnya mencapai 14 – 15 persen, artinya biaya logistik di Tanah Air belum efisien.

Padahal, potensi bisnis logistik di Indonesia yang memiliki penduduk sebanyak 280 juta jiwa ini sangat besar. Total nilai pasarnya pada tahun 2025 mencapai US$ 100 miliar – US$ 131 miliar, tumbuh 12,5 persen.

Di bisnis logistik ini, subsektor transportasi dan pergudangan diprediksi berkontribusi Rp 1.500 triliun ke PDB. Nilai ini tumbuh 9 persen.

“Besaran kontribusi sektor terhadap PDB akan jauh lebih maksimal jika sistem dan operasi pelaksanaanny juga efisien. Keridak efisienan terjadi sehingga biaya logistik mahal dikarenakan kemacetan sehingga konsumsi bahan bakar (BBM), kendaraan membengkak. Produktivitas truk tidak maksimal, biaya administrasi yang mahal hingga pungutan liar,” ungkap Ekonom Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, yang dihubungi Mobilitas, di Jakarta, Minggu (12/4/2026).

Ilustrasi, truk yang melintas di jalan tol – dok.Mobilitas

Ihwal borosnya BBM akibat kemacetan itu diakui Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo), Gemilang C.Tarigan, yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Minggu (12/4/2026). Terlebih, truk-truk yang digunakan untuk operasional myoritas telah berusia tua.

“Total populasi truk yang ada di Indonesia dan masih beroperasi sampai saat ini mencapai 6,4 juta unit. Dari jumlah tersebut, hampir 100 persen bermesin konvensional, dimana 65 persennya berumur di atas 20 tahun. Bahkan di pelabuhan, truk yang digunakan sebagian besar umurnya 30 hingga 40 tahun,” papar Tarigan.

Tentu, lanjut dia, truk tua tersebut potensi boros konsumsi BBM-nya juga lebih besar. Terlebih, untuk biaya perawatannya juga lebih mahal.

“Itu yang menjadikan biaya logistik tidak efisien. Apalagi jika nanti harga BBM naik akibat krisis energi. Oleh karena itu peremajaan armada truk ini menjadi sebuah keharusan di sektor logistik,” tandas Tarigan. (Jrr/Aa)

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id