Jakarta, Mobilitas – Melonjaknya penjualan secara grosir dari pabrik ke dealer alias wholesales maupun penju alan secara eceran dari dealer ke konsumen atau penjualan ritel mobil listrik baterai (BEV) dipicu oleh semakin banyaknya pabrikan maupun model BEV yang ditawarkan serta insentif berupa potongan tarif pajak dari pemerintah.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang dikutip Mobilitas di Jakarta, Senin (18/5/2026) menunjukkan di periode Januari hingga April 2026 total wholesales BEV sebanyak 47.781 unit. Jumlah terus meroket hingga 89,4 persen dibanding wholesales di periode samai di tahun 2025 yang sebanyak 25.231 unit.
Sementara, penjualan ritelnya 46. 877 unit. Jumlah penjualan eceran ke konsumen ini juga meroket jika dibnding total penjualan yang sama di periode Januari hingga April 2025 yang sebanyak 24.264 unit.
“Selain mobilnya yang baru dengan serangkaian fitur menarik, faktor insentif berupa potongan pajak yang membuat biaya kepemilikan mobil listrik baterai lebih murah dari pemerintah menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen. Kebijakan tersebut dinilai mampu menurunkan total biaya kepemilikan kendaraan listrik hingga 20-30 persen,” ungkap pengamat energi Prpfesor Iwa Garniwa, saat dihubungi Mobilitas di Jakarta, Senin (18/5/2026).

Menurut Rektor Institut Teknologi PLN ini, Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) 0 persen untuk BEV dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) di atas 40 persen, Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) nol persen, dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor, sangat berdampak ke biaya kepemilikan.
“Dan secara teori satu mobil listrik dapat menggantikan sekitar 1.200 liter BBM per tahun, mulai dipahami masyarakat dengan melihat biaya energi BEV (jika dibanding mobil konvensional penggguna BBM fosil) ternyata mengggunakan listrik lebih murah,” tandas Iwa.
Sehingga, lanjut dia, kebijakan fiskal berupa insentif pajak bagi kendaraan listrik efektif sebagai pemicu awal transisi energi di sektor transportasi.“Kebijakan ini efektif, meski dampaknya bertahap dan tidak langsung. Sehingga harus dipertahankan. Bukan sekadar untuk lingkungan bersih saja, tetapi juga untuk pengematan anggaran subsidi untuk BBM. Sebab, kalau jumlah kendaraan listrik mencapai satu juta unit, maka potensi penghematan BBM bisa mencapai 1,2 miliar liter per tahun,” kata dia.
Sekadar informasi, data Gaikindo memperlihaatkan wholesales BEVdi Indonesia terus meroket sejak tahun 2021 – 2025. Rinciannya tahun 2021: 687 unit, 2022: 10.327 unit, 2023: 17.051 unit, 2024: 43.189 unit, dan tahun 2025: 103.931 unit. (Anp/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id












