Jakarta, Mobilitas – Makin derasnya impor truk dalam wujud utuh (CBU) ini dikhawatirkan semakin menekan industri lokal. Jika produksi lokal berkurang, maka dampak buruk berupa Pemutusa Hubungan Kerja (PHK) pabrik pun bisa terjadi dan ekosistem rantai pasok industri juga terganggu.
Data Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) yang dinukil Mobilitas di Jakarta, Rabu (22/7/2026) menunjukkan, selama periode Januari – Juni atau semester pertama 2026, jumlah kendaraan niaga truk yang diimpor mencapai 15.850 unit. Mereka 32,9 persen dari Jepang, 31,8 dari India, dan 31,4 persen dari Cina.
Padahal, di periode yang sama di tahun 2025, jumlah truk yang diimpor masih sebanyak 7.794 unit. Artinya, jumlah truk yang diimpor selama paruh pertama tahun 2026 ini meningkat dua kali lipat dibanding periode sama di 2025.
Menanggapi fakta ini, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) di Direktor Jenderal ILMATE Kemenperin, Mahardi Tunggul Wicaksono, yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Rabu (22/7/2026) menyebut derasnya impor tersebut berpotensi memengaruhi utilisasi kapasitas produksi nasional.
“Kalau utilisasi kapasitas produksi ini terjadi, ya maka akibatnya terjadi multiplier effect, dampak berantai ke ekosistem industri kita, khususnya rantai pasok komponen. Sebab banyaknya impor, tentu potensi penggunaan komponen dalam negeri oleh industri lokal yang memproduksi kendaraan niaga itu juga berkurang. Kalau itu yang terjadi dampak buruknya ke keberlanjutan investasi dan penyerapan tenaga kerja,” ungkap Tunggul.

Menurut Tunggul, meski penjualan truk meningkat, namun jika truk impor juga terus meningkat, industri dalam negeri tetpa terdampak. Mesk, jumlah truk impor ini sebagian tidak tercatat di laporan penjualan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) karena bukan anggota, namun jumlah impor truk tersebut di semester I tahun ini hampir setengah dari total penjualan truk nasional.
Data Gaikindo yang disitat Mobilitas di Jakarta, Rabu (22/7/2026) menunjukkan wholesales truk di periode Januari – Juni 2026 itu sebanyak 35.934 unit, naik 39 persen dibanding periode sama di tahun lalu yang masih sebanyak 25.778 unit. Sementara, penjualan ritelnya di saat yang sama bulan sebanyak 35.932 unit, melonjak 28 persen dibanding periode sama di tahun 2025.
Sedangkan di periode Januari – Juni 2025, total penjualan ritel truk di Indonesia sebanyak 27.980 unit. Sehingga total impor truk di periode sama hampir sepertiga dari total penjualan truk yang diproduksi lokal. (Din/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id












