Korea Minta RI Beri Insentif Pabrikan Pengguna Baterai Nikel, Pengamat: Sangat Wajar

Senior Editor
Korea Minta RI Beri Insentif Pabrikan Pengguna Baterai Nikel, Pengamat: Sangat Wajar ▣ Lihat foto
Logo Hyundai - dok.Istimewa via MakerWorld

Jakarta, Mobilitas - Pemerintah Korea Selatan meminta pemerintah Indonesia untuk memberikan insentif bagi pabrikan mobil asal negerinya di Indonesia yang menggunakan baterai berbahan Nickel Manganese Cobalt (NMC).

Laporan The Financial dan Bloomberg yang disitat Mobilitas di Jakarta, Kamis (27/8/2026) menyebut, seperti diungkap Konselor di Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia Uhm Taeho, insentif itu akan mendukung bisnis dan investasi yang dijalankan dan ditanam di Indonesia oleh perusahaan Korea.

>>> Penjualan Ritel GAC Aion di RI Januari – Juli Naik 3,8 Persen, Meski Juli Anjlok 60,7 Persen

"Untuk mendukung bisnis Korea yang beroperasi di sini (di Indonesia), dan jika kita melihat manfaat bersama dari investasi kendaraan listrik Hyundai di Indonesia, kami berharap pemerintah Indonesia dapat memberikan insentif,” ujar Uhm dalam agenda Workshop Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea.

Uhm mengatakan baterai nikel mempunyai keunggulan mudah didaur ulang dibanding baterai Lithium Ferro Phosphate (LFP). Meski harga baterai NMC sedikit lebih mahal.

Dengan keunggulan baterai nikel irulah, perusahaan asal Korea Seperti Hyundai Motor berinvestasi di Indonesia. Pabrikan ini membangun pabrik pertama - termasuk sistem produksi kendaraan listrik - di Asia tenggara dengan kapasitas produksi hibgga 250.000 per tahun.

Bahkan, Hyundai juga bekerjasama dengan sesama pabrikan Korea Selatan LG Energy Solution membangun pabrik produksi baterai di Indonesia. Baterai produk mereka bahkan juga diekspor.

>>> Baru Masuk RI, Mobil BAW Sudah Diminati 1.400 Calon Pembeli, Terbanyak T01

Sementara itu, peneliti senior Indonesia Economic & Energy Institute, Dody Ambadar, yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Kamis (27/8/2026) menilai tuntutan Hyundai itu wajar.

"Karena Hyundai itu sudah memenuhi ajakan pemerintah untuk membangun ekosistem elektrifikasi mobilitas di Indonesia. Dan Hyundai tidak main-main dengan membangun pabrik. Nah, kalau sekarang yang dikasih orang yang impor mobil utuh hanya dengan jani akan bikin pabrik. Ya mestinya yang sudah konkrit dong," tandas Dody.

Dia menilai permintaan Korea itu sangat wajar. Terlebih, nikel merupakan bahan baku baterai listrik yang dihasilkan oleh Indonesia.

"Jadi harusnya Indonesia malah berterima kasih, " tegas Dody. (Tas/Aa)

>>> Audi Indonesia Ngenes di 2026, Juli Cuma Laku 1 unit, Tujuh Bulan 11 Unit

 

Siap mencari kendaraan yang paling cocok?

Telusuri berita dan informasi otomotif terbaru untuk membantu Anda menentukan pilihan.

Jelajahi artikel otomotif
Tentang Penulis
Arif Arianto

Senior Editor

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id