Mobil Esemka Masih Diimpor dari Cina, Dinilai Sesuatu yang Biasa

0
1767
Mobil komersial blind van listrik Esemka Bima EV yang diperkenalkan di IIMS 2023 - dok.Mobilitas

Jakarta, Mobilitas – PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) mengakui sampai saat ini mobilnya masih diimpor dari Cina.

Pabrikan yang berkantor pusat di Jalan Raya Demangan, Sambi, Boyolali, Jawa Tengah itu memboyong dua model baru dua model baru ke hajatan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2023 yang berlangsung di JiExpo, Kemayoran, Jakarta, 16 – 26 Februari 2023. Keduanya adalah mobil listrik Esemka Bima EV dan pikap bermesin konvensional Bima 1.3.

Mobil listrik Esemka EV disuguhkan dalam dua varian yakni minibus berbanderol Rp 540 juta dan cargo yang dihargai Rp 530 juta. Model kedua adalah pikap Esemka Bima 1.3 yang berbanderol Rp 137 juta dan Esemka Bima 1.3 AC EPS yang dilengkapi Electric power steering dan AC berbanderol Rp 150 juta.

“Sementara ini mobil diimpor tuh dari Cina. Tetapi di masa depan bukan tidak mungkin akan kami produksi sendiri di Tanah Air,” ungkap Direktur Utama Esemka Eddy Wirajaya di arena IIMS, Jakarta, Jumat (17/2/2023).

Dia mengatakan, pihaknya memang menggandeng pabrikan dari Negeri Tirai Bambu sebagai mitra kolaborasi dalam pengembangan produknya. “Secara bisnis itu mitra kerja. Kami memang mencari calon mitra yang bisa membuat kami dalam komitmen bersama untuk membuat produk,” kata dia.

Sumber Mobilitas di Kementerian Perindustrian yang dihubungi di Jakarta, Kamis (23/2/2023) mengatakan impor mobil utuh dalam rangka kerjasama antar dua pabrikan dan kemudian mobil yang bersangkutan diberi merek lokal merupakan hal yang lumrah dalam bisnis.

Mobil pikap Esemka Bima 1.3 di IIMS 2023 yang disebut masih diimpor secara utuh dari Cina – dok.Mobilitas

“Itu biasa dilakukan oleh pabrikan-pabrikan otomotif. Bahkan pabrikan besar seperti antara Toyota dengan Suzuki, dimana mobil Toyota diberi label (rebadge) Suzuki dan dijual Suzuki di India. Dan sebaliknya. Itu lumrah,” kata dia.

Tetapi, lanjut pejabat tersebut, yang tidak boleh adalah klaim sepihak atas hak paten dari produk. Baik itu mesin, transmisi, serta komponen-komponen lainnya.

Tetapi tentunya itu juga tergantung perjanjian antara dua perusahaan yakni antara Esemka dengan mitranya di Cina. “Sejauh mana penggunaan teknologi dan hak atas patennya siapa tentu mereka yang tahu. Tapi sejauh ini belum terdengar ada klaim mobil itu dibuat sendiri oleh Esemka dengan komponen lokal hingga tingkat tertentu. Kita belum dengar itu. Dan Esemka sendiri juga belum pernah secara resmi mengatakan sebagai brand mobil nasional,” tandas pejabat tersebut.

Dia menyebut persoalan akan menjadi tidak biasa jika Esemka secara tegas mengatakan mobil yang diimpor utruh itu merupakan karyanya dan dibuat dengan komponen 100% lokal dan dibuat di dalam negeri. “Sebab, tentu semua harus ada bukti,” ucap dia. (Yas/Aa)