Mobility

RI Targetkan Penggunaan BBM E20 di Tahun 2028, Ini Manfaatnya Bagi Bangsa dan Negara

×

RI Targetkan Penggunaan BBM E20 di Tahun 2028, Ini Manfaatnya Bagi Bangsa dan Negara

Share this article
Ilustras, BBM Bioetanol - dok.Istimewa via Chili Mindi

Jakarta, Mobilitas – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan menggelar uji jalan (road test) penggunaan bahan bakar minyak (BBM) bensin dicampur etanol 20 persen alias bioetanol E20.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (17/6/2026) menyebut pelaksanaan road test ini dilakukan bersama Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).

“Kami ajak Gaikindo untuk tes BBM E20 ini untuk mengetahui secara empiris seperti apa kompabilitasnya bagi kendaraan. Sehingga, ketika nanti mandatorinya berjalan benar-benar sudah siap digunakan,” ungkap Eniya.

Menanggapi rencana ini, Anggota Komisi XII DPR RI Dewi Yustisiana yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Kamis (18/6/2026) menyebut kebijakan ini merupakan titik strategis untuk membangun ketahanan energi dengan memanfaatkan sumber dya di dalam negeri. Terlebih untuk mengurangi ketergantungan sepenuhnya ke bahan energi berbahan fosil yang semakin langka.

“Karena kita tahu, bahan untuk etanol itu di dalam negeri Indonesia melimpah seperti singkong, jagung, dan lainnya. Tentu, kalau kita bisa mensubtitusi bahan energi fosil itu dengan etanol, maka selain kita berdaulat dalam pemenuhan kebutuhan energi, juga memberikan nilai tambah ekonomi ke bahan-bahan tersebut. Ini pada akhirnya ekonomi masyarakat penghasil bahan baku etanol itu terangkat, penggunaan energi hijau pun bergulir kencang di Indonesia. Ini semua merupakan target yang sangat bagus bagi negara dan bangsa kita,” ungkap Dewi.

Ilustrasi, BBM – dok.Istimewa via The Manila Times

Pada sisi lain, jika BBM dengan pemanfaatan bahan energi baru dan terbarukan itu terjadi, maka ketergantungan Indonesia ke impor BBM fosil juga berkurang atau bahkan bisa nihil.

Sekadar informasi, nilai impor minyak mentah dan hasil minyak yakni BBM sepanjang tahun 2025 mencapai US$ 32,77 miliarbatau setara Rp 516 triliun. Tentu, nilai ini sangat besar, dan jika impor dikurangi atau bahkan disetop maka anggaran bisa dialihkan untuk program pendukung kesejahteraan masyarakat luas, khususnya untuk pembangunan yang bermanfaat luas.

Memang, kata Dewi, penggunaan BBM Bioetanol membawa konskwensi baru bagi kendaraan. Namun, hal itu menjadi tantangan bagi pabrikan kendaraan untuk berinovasi.

“Tentu ini akan bisa.diatasi oleh produsen kendaraan. Buktinya di Brasil, Argentina, Eropa, banyak mobil merek-merek terkenl yang menggunakan bioetanol tidak masalah. Tantangannya, kelangsungan pasokan BBM etanol.maupun sebarannya, ini menjadi tantangan kita semua,” tandas Dewi. (Amr/Aa)

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id