Bisnis

Setelah Tahun 2025 Melorot, Penjualan Bus di 2026 Diperkirakan Masih Berat Karena Faktor Ini

×

Setelah Tahun 2025 Melorot, Penjualan Bus di 2026 Diperkirakan Masih Berat Karena Faktor Ini

Share this article
Ilustrasi, bus ber-chassis Mercedes-Benz - dok.Mobilitas

Jakarta, Mobilitas – Penjualan bus sepanjang tahun 2025 tidak sesemarak tahun sebelumnya, karena banyak Perusahan Otobus (PO) telah melakukan sasis bus di tahun sebelumnya karena di tahun 2021 – 2023 pengadaan tertunda akibat Pandemi Covid-19.

Selain itu, seperti yang diungkap Ketua Umum Ikatan Pengusah Otobus Muda Indonesia (IPOMI), Kurnia Lesani Adnan, banyak PO yang berpacu dengan waktu membeli sasis di tahun 2024 untuk menyiasti regulasi baru bus harus berstandar emisi Euro 5 pada thun 2025.

“Ya tentunya banyak alasan mengapa PO yang membeli sasisa Euro sebelum regulasi berlaku di tahun 2025. Karena harga sasis standar Euro 5 lebih mahal. Selain itu, tentu jenis bahan bakarnya juga harus berstandar kualitas yang lebih tinggi pula, ” kata Lesani yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Kamis (26/2/2026).

Sementara itu, data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang disitat Mobilitas di Jakarta, Kamis( 26/2/2026) menunjukkan di tahun 2025 2025 penjualan sasi bus ke dealer alias wholesales di Tanah Air mencapai 4.541 unit, jumlah tersebut merosot 19 persen dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 5.641 unit.

Ilustrasi, bus ber-chassis Scania dengan karoseri garapan Laksana – dok.Mobilitas

Salah Sekretaris Jenderal Gaikindo , Kukuh Kumara yang dihubungi Mobilitas menyebut, selain banyak PO yang melakukan pembeli sasis di tahun 2024, pasaar juga berada di titik jenuh. “Banyak PO yang membuka rute baru di 2024, dan membuka rute baru di 2025 tetapi unit busnya sudah disiapkan di tahun 2024. Tahun 2024 euforia jalan tol Trans Jawa dan Trans Sumatera berada di puncaknya,” ujar Kukuh.

Ucapan Kukuh dibenarkan Lesani. Tetapi, sebut Lesani, selain faktor-faktor tersebut juga ada satu faktor lain yang tidak kalah kuatnya berpengaruh terhadap minat penguasaha angkutan bus untuk membeli sasis baru.

“Faktor itu adalah suku bunga kredit pembelian sasis bus yang tinggi berkisar antara 6 – 7 persen untuk tenor 1-4 tahun. Bahkan hingga 8 persen untuk tenor lebih panjang. Padahal hampir 100 persen pembelian sasis dilakukan secara kredit, ” tandas Lesani.

Tren seperti di tahun 2025, termsuk suku bunga kredit, diperkirakan Lesani masih terjadi di tahun 2026 ini. Sehingga tantangan berat masih berlanjut. (Anp/Aa)

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id