Jakarta, Mobilitas – Fakta data juga memperlihatkan sepanjang periode Januari hingga Februari atau dua bulan pertama 2026, baik penjualan secara grosir dari pabrik ke dealer (wholesales) maupun penjualan secara eceran dari dealer ke konsumen (penjualan ritel) mobil listrik Neta di Indonesi memng merosot tajam.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang dinukil Mobilitas di Jakarta, Senin (20/4/2026) menunjukkan, pada periodea Januari – Februari 2026, total wholesales mobil Neta sebanyak 47 unit (yang dibukukan di bulan Februari saja). Jumlah penjualan grosir itu anjlok 72 persen dibanding total wholesales selama dua bulan pertama 2025.
Di bulan Februari, jumlah penjualan grosir mobil merek asal Republik Rakyat Cina tersebut sebanyak 47 unit. Total penjualan tersebut anjlok 39,7 persen dibanding penjuan grosir pada bulan yang sama di tahun 2025.

Sementara, total penjualan ritelnya di periode Januari – Februari 2026 tersebut, hanya sebanyak 75 unit, anjlok hingga 30,6 persen dibanding dua bulan pertama 2025. Jumlah penjualan itu juga dibukukan hanya di bulan Februari saja, karena seperti wholesales di bulan Januari juga tidak penjualan alias nihil.
“Di Maret memang tidak ada penjualan, dan itu kan lumrah dalam dinamika bisnis ya. Kita juga tidak tahu masalahnya. Memang, beberapa waktu lalu kan dikabarkan prinsipal Neta di Cina manjemen ada masalah finansial, lalu disebut sudah ada restrukrisasi. Itu urusan internal mereka ya,” ungkap pejabat Gaikindo yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Senin (20/4/2026).
Sekadar informasi, Neta melalui PT Neta Auto Indonesia mulai beroperasi sejak diperkenalkan di GIIAS 2023. Namun mulai berjualan pada Oktober 2023 dengan meluncurkan model Neta V. (Din/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id












