Bisnis

Jumlah Kelas Menengah Susut, Penjualan LCGC di Semester I 2026 Mengkerut

×

Jumlah Kelas Menengah Susut, Penjualan LCGC di Semester I 2026 Mengkerut

Share this article
LCGC Daihatsu Ayla - dok.Mobilitas

Jakarta, Mobilitas – Total penjualan grosir dari pabrik ke dealer (wholesales) mobil ramah lingkungan berharga terjangkau (LCGC) selama periode Januari hingga Juni atau semester pertama 2026 itu berbanding terbalik dengan total wholesales (total penjualan ke dealer dri semua kategori kelas dan jenis mobil) seluruh merek.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang disitat Mobilitas di Jakarta, Sabtu (11/7/2026) menunjukkan di peeriode semester pertama 2026 total wholesales LCGC sebanyak 55.506 unit. Jumlah itu melorot sekitar 10 persen dibanding total wholesales-nya di periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 61.719 unit.

Sementara – di saat yang sama – total wholesales seluruh jenis dan kategori mobil di Tanah Air mencapai 436.564 unit. Total penjualan grosir tersebut meningkat 15,9 persen dibanding wholesales periode sama di tahun lalu yang sebanyak 376.707 unit.

“Memang, wholesales itu penjualan grosir atau distribusi ke dealer ya. Tetapi, distribusi itu kan juga memperhitungkan stok yang masih ada di dealer ya. Mengapa masih banyak, ya karena permintaan konsumen (penjualan ritel) turun,” ungkap Ketua I Gaikindo, Jongkie Sugiarto, saat dihubungi Mobilitas di Jakarta, Sabtu (11/7/2026).

Menurut Jongkie, menurunnya permintaan LCGC oleh konsumen itu menjadi indikasi kuat masih belum kuatnya daya beli kelas menengah lapisan pertama dan kedua alias kelompok pemula dan medium di kelas menengah. Mereka, merupakan calon pembeli potensial LCGC yang juga pembeli pemula (first buyer) mobil.

Ilustrasi, Honda Brio Satya – dok. Mobilitas

Pendapat senada diungkap Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet. Dia menyebut penjualan ritel mobil (secara total seluruh kategori dari seluruh merek yang ada) di periode semester pertama 2026 memang naik dibanding periode sama di 2025.

“Tetapi pembeli terbanyak kelompok menengah atas dan kelas atas. Kelompok lapis bawah dan lapis tengah di kelas menengah hanya sedikit sekali, karena daya beli yang lemah. Jadi kenaikan total penjualan ritel (mobil) di semester satu tidak mencerminkan konsumsi masyarakat secara keseluruhan. Kelas menengah menahan konsumsi karena biaya hidup naik, tapi pendapatan tidak,” papar Rendi yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Sabtu (11/7/2026).

Sekadar informasi, di semester I tahun ini, total penjualan ritel mobil 433.848 unit meningkat 10,5 persen dibanding periode sama di tahun 2025 yang sebanyak 392.778 unit. Sedangkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kelas menengah turun dari 57,33 juta orang (2019) menjadi 46,7 juta orang pada periode 2025-2026. (Tas/Aa)

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id