London, Mobilitas - Inggris dikabarkan akan memberlakukan tarif masuk atau bea impor untuk mobil listrik asal China. Langkah tersebut merupakan permintaan Komisi Uni Eropa yang dimaksudkan untuk melindungi industri lokal di wilayah tersebut.
Laporan Times of London yang disitat Mobilitas di Jakarta, Selasa (6/10/2026) menyebut jika tarif itu benar-benar diberlakukan maka akan menjadi pukulan bagi kelompok merek yang kini menyumbang hampir seperempat dari mobil yang terjual di negara ini. Merek adalah merek asal China seperti BYD, Chery, Geely, dan lain-lain.
"Inggris bisa dikeluarkan dari produk Made in Europe jika tidak memberlakukan tarif. Bahkan jika tidak menerapkannya, maka Inggris dikeluarkan dari label Made in Europe, karena pejabat Uni Eropa khawatir Inggris bisa menjadi pintu belakang bagi ekspor China ke Eropa," tulis media itu.
Sementara itu, seorang pejabat di Komisi Uni Eropa kepada The Financial mengatakan mobil-mobil asal Negeri Tirai Bambu telah ‘merusak’ pasar dengan harga murah. Mereka bisa lebih murah karena mendapatkan bebas bea ekspor atau ‘subsidi’ dari pemerintahnya.
Sedangkan di negera tujuan ekspor, mobil-mobil China itu kembali mendapatkan fasilitas bebas bea masuk. "China saat ini mengalami over produksi mobil, sehingga pemerintah setempat mendorong pabrikan di sana untuk agresif memperluas pasar. Tentunya, dorongan ini disertai fasilitas," ungkap pejabat tersebut.
Menanggapi rencana penerapan tarif itu, perusahaan akan mendirikan pabrik guna memproduksi lokal untuk menghindari bea masuk. Namun Komisi Uni Eropa mengusulkan memperketat tingkat kandungan komponen lokal.
“Tarif bisa datang dan pergi tetapi itu tidak akan mengubah investasi kami di Inggris. Kami akan tetap di sini,” tandas Managing Director Jaecoo dan Omoda di Inggris, Victor Zhang. (Anp/Aa)

