Jakarta, Moblitas – Fakta data menunjukkan jumlah kecelakaan lalu-lintas di Indonesia periode Januari hingga Juni (semester pertama) pada tahun 2025, semester dua (Juli - Desember) 2025, dan semester pertama 2026.
Anggota Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno dalam keterangan tertulis kepada Mobilitas di Jakarta, Rabu (14/10/2026) menyebut fakta tersebut terungkap di data Integrated Road Safety Manajemen System (IRSMS) Korlantas Polri tahun 2024–2026.
"Pada semester pertana 2025, jumlah kasus kecelakaan sepeda motor sebanyak 97.270 kasus. Semester kedua di tahun yang sama meningkat menjadi 114.130 kasus. Kemudian di semester pertama tahun 2026 meningkat lagi menjadi 120.975 kasus," papar Djoko.
Menurut pengajar di Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Unika Soegijpranata, Semarang, itu ada beberapa penyebut pemicu kecelakaan, yakni faktor human error, faktor teknis kendaraan, serta infrastruktur jalan dan kondisi lalu-lintas. "Namun porsi yang terbesar adalah karena faktor manusia atau human error," tandas Djoko.
Faktor kesalahan manusia itu mulai dari penggunaan ponsel saat berkendara, mengantuk, atau kehilangan fokus. Kemudian kelelahan, melanggar batas kecepatan, menerobos lampu merah, melawan arus, dan menyalip secara berbahaya, hingga tidak pahamnya etika berkendara.
Sementara, faktor teknis kendaraan penyebab kecelakaan motor yng terbanyak adalah rem yang tidak pakem, ban gundul atau tipis, serta lampu utama atau lampu sein yang mati. Selain itu membawa penumpang atau barang melebihi kapasitas yang mengurangi keseimbangan dan daya cengkeram ban motor.
"Dan faktor lainnya adalah jalan berlubang, minim penerangan di malam hari, dan desain jalan yang kurang aman. Bahkan, kondisi jalan yang terlalu sepi dan mulus sering memicu pengendara memacu kecepatan tinggi hingga kehilangan kendali," jelas Djoko.
Mirisnya, lanjut Djoko, penelitian Polri menunjukkan sebagian besar pelanggaran dan kecelakaan melibatkan kelompok usia produktif (17–35 tahun). Khususnya pelajar dan mahasiswa.
Dia menyarankan edukasi tentang etika serta keselamatan berkendara, hingga mendorong masyarakat beralih ke angkutan umum digencarkan. Tetapi diikuti perbaikan dan peningkatan kualitas layanan, keamanan, dan kenyamanan angkutan umum. (Jrr/Aa)
