Jakarta, Moblitas – Konsumen di segmen ini, yang merupakan kalangan kelas atas dengan daya beli yang kuat bersikap menungggu perkembangan dinamika ekonomi dan menunda pembelian. Mereka bersikap seperti itu karena sangat rasional dan selalu mengkalkulasi waktu yang tepat untuk beli di saat kondisi bisnis atau nilai aset mereka meningkat.
"Kalangan kelas atas itu, merupakan konsumen tipe emotional buyer. Mereka membeli mobil mewah itu karena faktor kesenangan atau gaya hidup. Mereka kalau suka karena loyal ke suatu brand dan karena paham bener brand itu. Tetapi, mereka juga sangat rasional, untuk timing beli terutama jika mengkalkulasi kondisi ekonomi," papar peneliti di Indonesia Economic and Public Policy Studies, Nurul Jannah, yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Umumnya, lanjut Nurul, hal-hal yang diperhatikan oleh konsumeN kelas atas terkait kondisi ekonomi adalah besaran nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, bunga deposito atau obligasi, tren ekonomi global, dan lain-lain. Semua itu mereka perhatikan bukan karena daya beli merek turun.
"Tetapi lebih pada benchmarking, pertimbangan apakah saat beli mobil mewah atau tidak. Sehingga merek lebih bersikap wait and see," jels Nurul.
Namun, ternyata tak semua merek mobil mewah di Indonesia membukukan anjloknya penjualan akibat sikap konsumen potensialnya bersikap seperti itu. Beberapa merek masih membukukan kenaikan penjualan.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang dinukil Mobilitas di Jakarta, Rabu (14/10/2026) menunjukkan di periode Januari – September 2026 itu, BMW menjual mobil ke konsumen (penjualan ritel) 2.006 unit. Jumlah itu naik 11,8 persen dibanding tahun lalu.
Kemudian Mercedes menjual 1.716 unit (anjlok 15 persen), Denza 3.135 unit (anjlok 51,2 persen), Lexus 1.059 unit (anjlok 15,8 persen), dan MINI 355 unit (anjlok 14,5 persen). Lalu Volvo membukukan penjualan ritel sebanyak 69 unit (anjlok 21,6 persen) dan Audi melego hanya 17 unit, meski melonjak 54,5 persen. (Jrr/Aa)
