Bisnis

Perolehan Laba Bersih BYD di Kuartal I 2026 Anjlok 55,4 Persen, Ini Penyebabnya

×

Perolehan Laba Bersih BYD di Kuartal I 2026 Anjlok 55,4 Persen, Ini Penyebabnya

Share this article
Logo BYD - dok.Car

Hong Kong, Mobilitas – Produsen mobil terbesar di Cina, Build Your Dreams (BYD) membukukan anjloknya perolehan laba bersih periode kuartal pertama (Januari – Maret) 2026 , baik dibanding kuartal pertama maupun kuartal keempat (Oktober – November) 2025.

Reuters dan The Hong Kong Standard yang mengutip laporan keuangan kuartalan BYD dan disitat Mobilitas di Jakarta, Selasa (28/4/2026) menyebut di tiga bulan pertama 2026 itu, laba bersih yang dikantongi BYD hanyan4,1 miliar yuan (US$ 600 juta). Total nilai keuntungan netto itu anjlok hingga 55,4 persen dibanding laba bersih yang berhasil diraupnya pada kuartal pertama 2025.

”Sedangkan jika dibanding kuartal keempat 2025, perolehan laba bersih selam periode kuartal pertama 2026 tersebut anjlok 38,2 persen. Dan pendapatan pada kuartal pertama turun 11,8 persen menjadi 150,2 miliar yuan. Tren penurunan pendapatan ini terjadi hingga tiga kuartal secara berturut-turut, ” tulis kedua media tersebut.

Sementara itu, data Asosiasi Mobil Penumpang Cina (CPCA) yang dikutip Mobilitas di Jakarta, Selasa (28/4/2026) menunjukkan di periode tiga bulan pertama 2026, penjualan mobil elektrikasi (atau NEV, yakni mobil listrik baterai dan hybrid) sebanyak 700.463 unit.

Ilustrasi, BYD – dok.Tech in Asia

Jumlah tersebut anjlok 30,01 persen dibanding periode sama di tahun 2025 yang masih mencapai 1.600. 804 unit.

Sedangkan dibanding total penjualan yang dibukukannya di periode kuartal keempat (Oktober – November) 2025, penjualan di kuartal pertama 2026 itu anjlok 47,82 persen.

Sejumlah analis industri di Bursa Saham Hong Kong menyebut tekanan terhadap BYD meningkat karena pemerintah Cina mengurangi subsidi tukar tambah untuk mobil listrik kelas entry level dan mobil berteknologi plug-in hybrid.

”Kondisi semakin sulit karena persaingan tidak sehat, dikarenakan pabrikan berlomba menawarkan harga lebih murah atau perang harga, ” ujar analis Patrick Chan. (Din/Aa)

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id