⌂ Beranda › Bisnis › Wholesales Mobil Listrik di RI Januari – September Meroket 112,25 Persen, Ini Pemicunya
Bisnis

Wholesales Mobil Listrik di RI Januari – September Meroket 112,25 Persen, Ini Pemicunya

Wholesales Mobil Listrik di RI Januari – September Meroket 112,25 Persen, Ini Pemicunya
Ilustrasi pengecasan baterai mobil listrik - dok.IamNew York
A A Ukuran Teks16px

Jakarta, Mobilitas – Penjualan secara grosir dari pabrik ke dealer (wholesales) alias distibusi ke dealer mobil listrik baterai (BEV) selama periode Januari – September 2026 itu masih didominasi oleh mobil listrik berbanderol Rp300 juta ke bawah. Segmen ini merupakan ceruk pasar terbesar di pasar otomotif roda empat di Indonesia.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang disitat Mobilitas di Jakarta, Senin (26/10/2026) menunjukkan wholesales mobil listrik (BEV) di sembilan bulan pertama 2026 itu sebanyak 117.218 unit. Jumlah tersebut melejit hinggai 112,25 persen dibanding periode yang sama di tahun lalu, yang sebanyak 55.225 unit.

Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Senin (26/10/2026) menyebut meroketnya distribusi mobil listrik di rentang waktu Januari – September 2026 dipicu setidaknya oleh empat hal. Pertama, bertambahnya merek-merek baru penjual mobil listrik ke Tanah Air, terutama dari China.

Kedua, seiring dengan masuknya merek baru tersebut, pertambahan jumlah dealer penjual BEV pun terjadi. Ini, tentunya diikuti permintaan pasokan atau distribusi model mobil yang akan dipasarkan.

Ketiga, lahirnya model-model baru yang diproduksi prinsipal merek-merek yang sudah eksis. Model-model anyar ini tentunya juga segera didistribusikan untuk dijual ke konsumen, sehingga otomatis memacu total wholesales.

"Keempat, permintaan konsumen atau penjualan ritel yang berada di tren terus tumbuh. Tren tersebut selaras dengan preferensi konsumen yang cenderung memilih BEV karena mereka mengkalkulasi, ternyata biaya operasional mobil listrik lebih efisien dibanding mobil konvensional. Begitu pun dengan biaya perawatan yang dinilai lebih murah," papar Kukuh.

Menurut Kukuh, kalkulasi matematis terkait biaya operasional dan perawatan itu tak hanya terjadi di kalangan kelas atas yang membeli untuk mobil ketiga atau keempat saja, tetapi juga di kalangan menengah dan bawah. Bukti banyaknya pembeli dari mereka yang membeli mobil untuk pertama kali atau first buyer maupun kelas menengah yang membeli untuk mobil kedua itu terlihat dari mobil listrik yang terjual, ternyata didominasi model berharga Rp300 juta ke bawah.

"Segmen pasar mobil berharga Rp300 juta ke bawah ini merupakan ceruk pasar terbesar. Ya, karena memang daya beli rata-rat kelas menengah Indonesia masih sebesar itu," tandas Kukuh. (Din/Aa)

Tentang Penulis
Arif Arianto

Senior Editor

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru