Jakarta, Mobilitas – Ketua Umum Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jumhur Hidayat menegaskan impor kendaraan komersial itu sebanyak itu sebagai sebuah ironi dan tak peka terhadap keadaan industri dalam negeri yang tengah melemah.
Jumhur yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Senin (23/2/2026) menyebut penjulan mobil (kendaraan penumpang maupun komersial atau niaga) di Indonesia terus merosot dalam tiga tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat industri kendaraan bermotor roda empat atau lebih di Tanah Air semakin berat menahan beban.
“Ini imbasnya ke buruh atau pekerja. Merek selalu dihantui perasaan was-was khawatir PHK terjadi. Kalau kondisi ketenangan dan ketenteraman mental merek terganggu ya tentu akan berpengaruh ke etos dan produktivitas kerja. Apalagi banyak perusahaan yang juga mengurangi jam kerja biar tidak ada PHK, ” papar Jumhur.
Merujuk data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jumhur menyebut, anjloknya penjualan kendaraan bermotor roda empat atau lebih selama tiga tahun berturut-turut merupakan alarm, bahwa industri otomotif nasional dalam kondisi darurat. “Sinyal ini harus dibaca, dan kalau punya sense of crisis atau kepekaan krisis, ada empati, impor-impor itu tidak akan terjadi. Industri otomotif kita sedang tidak baik-baik saja, ” tandas mantan aktivis mahasiswa ITB itu.
Jika terjadi PHK buruh secara besar-besaran, lanjut Jumhur, maka yang rugi juga negara karena pertumbuhan ekonomi terganngu, sebaab daya beli masyarakat akan jeblok. Dan anjloknya daya beli akan menurunkan konsumsi, sektor yang selama ini menyokong pergerakan roda perekonomian nasional hingga 40 persen.

Sementara itu, data Gaikindo yang disitat Mobilitas di Jakarta, Senin (23/2/2026) menunjukkan di tahun 2023 penjualan grosir bermotor roda empat atau lebih dari pabrik ke dealer (wholesales) sebanyak 1.005.802 unit jumlah itu melorot 4 persen dibanding tahun 2022 yang sebanyak 1.048.040 unit.
Sedangkan penjualan ecerannya dari dealer ke konsumen (penjualan ritel) di tahun yang sama 998.059 unit. Turun 1,5 persen dibanding tahun 2022 yang masih sebanyak1.013.582 unit.
Kemudian, pada tahun 2024, penjualan ritel ajlok 10,9 menjadi 889.680 unit. Lalu, di tahun 2025 penjualan ke konsumen tersebut kembali anjlok 6, 3 persen, karena totalnya hanya 833.692 unit.
Seperti diketahui, PT Agrinas Pangan Nusantara (Agrinas) telah meneken pembelian 105.000 unit kendaraan niaga – pick up dan truk – dari dua pabrikan India yaitu Mahindra dan Tata Motors.Rinciannya 35.000 pick up Mahindra Scorpio dari Mahindra dan 35.000 pick up Tata Yodha serta 35.000 truk Tata Ultra T7 dari Tata Motors. (Jrr/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id








