Jakarta, Mobilitas – Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, menyebut dua perusahaan besar di Jawa Timur, berpotensi memindahkan sebagian lini produksinya ke Vietnam.
Menurut pria yang juga Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) itu, dua perusahaan itu berinisial PT J dan PT S itu merelokasi sebagian lini produksinya ke Negeri Paman Ho karena situasi global khususnya perang yang tidak menentu. Sehingga membuat prinsipalnya di Jepang akan memindahkan sebagian lini produksinya ke negara-negara yang lebih produktif dan mengubah diversifikasi produknya.
“Nah, karena ini mobil, jadi mereka akan berfokus di mobil listrik yang pengembangannya dilakukan di Vietnam, bukan di Indonesia,” papar Iqbal saat memberi keterangan pers di Jakarta, Minggu (21/6/2026).
Sementara, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM), Rachmat Basuki yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Senin (22/6/2026) mengaku belum mendengar langsung secara resmi soal rencana dua produsen komponen otomotif itu. Dia hanya mendengar kabar tak langsung, tetapi Basuki tak mau menyebut nama mereka.
Sedangkan sumber Mobilitas di Kementerian Perdagangan mengakui ada kabar itu. Menurut dia, dua perusahaan itu adalah PT Jatim Autocomp Indonesia (JAI), produsen wiring harness, dan bagian dari grup Yazaki Corporation Jepang dan beroperasi di Ngoro, Pasuruan.

Kedua, PT Surabaya Autocomp Indonesia, juga produsen wiring harness dan juga bagian dari Yazaki Group dan memiliki pabrik di Mojokerto. Perusahaan ini fokus memproduksi wiring harness
“Mereka bukan kalah bersaing dalam artian kualitas produknya tidak bagus. Tetapi karena iklim usaha yang membuatnya berat. Di Vietnam perkembangan industri mobil listrik lebih bagus karena eksosistemnya telah berkembang sejak tiga tahun lalu. Terlebih negara itu punya pabrikan lokal VinFast yang juga membutuhkan pasokan komponen,” ujar sumber itu.
Menurut di, di Indonesia meski banyak pabrikan mobil listrik mengaku memproduksi mobilnya di lokal Indonesia, ternyata banyak yang hanya merkit. Sehingga komponen-komponennya juga dari negeri asal pabrikan itu, yang diimpor secara terurai.
“Karena hanya mereka assembly, jadi belum menyerap komponen dari supplier lokal. Lha celakanya, pasar mobil lesu dimana penjualan turun. Sehingga produksi berkurang, permintaan komponen pun menyusut,” kata sumber itu.
Adapun Basuki, berharap jika kabar itu benar adanya, maka iklim investasi dan perkembangan industri terutama pengggunaan komponen lokal menjadi perhatian pemerintah. Terlebih, Indonesia memiliki potensi pengembangan industri dan pasar otoomotif yang besar, sehingga sayang jika hanya menjadi temapat merakit dan pasar saja. (Jrr/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id












