Mobility

Harga BBM Non-Subsidi Dikerek Naik Kecuali Pertamax, Ini Dampak Positif dan Negatifnya

×

Harga BBM Non-Subsidi Dikerek Naik Kecuali Pertamax, Ini Dampak Positif dan Negatifnya

Share this article
Ilustrasi, pengisian BBM Pertamax ke tangki mobil - dok.istimewa via RRI.co.id

Jakarta, Mobilitas – PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi. Meski begitu harga BBM non-subsidi jenis RON 92 alias Pertamax msih tetap alias tak dikerek.

Keterangan resmi di laman resmi Pertamina Patra Niaga yang dikutip Mobilitas di Jakarta, Senin (4/5/2026) menyebut sejak hari ini, Senin (4/5/2026) di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di wilayah Jakarta dan sekitarnya, harga BBM Pertamax Turbo (RON 98) Rp 19.900 per liter. Besaran harga itu naik dari sebelumnya Rp19.400 per liter.

Sementara itu harga BBM jenis Solar Dexlite naik menjadi Rp 26.000 per liter dari sebelumnya Rp23.600 per liter. Sedangkana Solar Pertamina Dex harganya naik menjadi Rp 27.900 per liter dari sebelumnya Rp23.900 per liter.

Adapun harga Pertamax 92 dan Pertamax Green tetap alias tidak naik. Masing-masing Rp 12.300 per liter dan Rp 12.900 per liter.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Fahmy Radhi, yang dihubungi Mobilitas dari Jakarta, Senin (4/5/2026) menilai langkah menahan harga BB, non-subsidi Pertamax di tengah gejolak harga minyak dunia, dilakukan pemerintah memang cukup baik untuk tiga hal.

Ilustrasi, pengisian BBM jenis Pertamax ke sepeda motor pelanggan SPBU – dok.Istimewa

“Ketiganya adalah menjaga daya beli kelompok kelas menengah yang merupakan konsumen terbanyak Pertamax. Dan kalau kita lihat tren pengggunaan BBM nonsubsidi jenis ini oleh merek terus beranjak naik. Dan yang kedua, menjaga inflasi, karena tiga jenis BBM nonsubsidi lainnya – yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertadex – naik, sehingga jika Pertamax juga naik, maka inflasi tak stabil, ini artinya Pertamax dijadikan stabilisataor untuk meredam gejolak inflasi,” papar Fahmy.

Dan yang ketiga, lanjut Fahmy, tidak dikerek naiknya harga Pertamax itu untuk mencegah beralih atau migrasi besar-besaran para penggguna BBM Pertamax ke BBM bersubsidi yaitu Pertalite. Sebab, jika itu terjadi, permintaan Pertalite melonjak yang berujung membengkaknya anggaran BBM bersubsidi.

Namun, Fahmy mengingatkan, jika harga BBM Pertamax terus ditahan, maka akan berdampak negatif. Jika harga minyak dunia terus naik, maka Pertamina akan semakin menderita karena harus rela mengurangi margin keuntungan atau bahkan nombok.

Lebih dari itu, dalam kondisi gejolak harga minyak internasional dan BBM itu terus ditahan, maka bisa terjadi shock harga yang lebih besar di masa depan. Pemerintah pun akan mengikuti dan konsumen terkaget. (Din/Aa)

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id