Jakarta, Mobilitas - Dari perhitungan riil berdasar komponen harga diketahui harga keekonomian (harga pasar yang semestinya) Bahan Bakar Minyak (BBM) RON 92 itu berkisar Rp 16.700 - Rp 16.800 per liter.
Menurut Ekonom Center of Economic and Energy Policy Studies ( CEEPS) Iwan Subarkah, komponen pembentuk harga itu antara lain harga minyak minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, biaya distribusi dan penyimpanan, margin keuntungan, hingga pajak.
"Dari penghitungan yang memasukkan komponen utama pembentuk harga tersebut, diketahui harha ekelonomian BBM Pertamax itu berkisar Rp16.700-Rp16.800 per liter. Sehingga kalau sampai sekarang dipertahankan Rp15.950 per liter, itu artinya pemerintah meminta Pertaminan untuk nomboki Rp 700 - Rp 900," papar Iwan saat dihubungi Mobilitas di Jakarta, Senin (7/9/2026).
Menurut Iwan, langkah tersebut patut diduga karena pemerintah ingin bermain aman. Hal itu tiga alasan.
Pertama untuk menjaga daya beli masyarakat khususnya kelompok kelas menengah yang di Indonesia jumlahnya semakin menurun.
"Mengapa pemerintah berhitung cermat agar kelompok kelas menengah ini daya belinya masih terjaga. Alasan rasional ekonominya agar mereka tetap berkonsumsi sehingga masih berkontribusi dalam menggerakan roda pertumbuhan ekonomi, " papar Iwan.
Alasan kedua, lanjutnya, rasional politis, yakninpemrrintah khawatir jika kelas menengah semakin tertekan maka akan terjadi gejolak sosial yang merembet ke.politik. Alasan ketiga, pemerintah tidak ingin kelompok menengahbyang selama ini mengonsumsi BBM Pertamax beralih ke Pertalite yang merupakan BBM bersubsidi.
"Sebab, kalau itu terjadi maka beban anggarannuntuk subsidi energi melonjak. Jika penggunaan Pertalite dibatasi secara strike ujungnya gejolak sosial. Karenanya, dihitung-hitung ya tetap menahan harga BBM Pertamax sebesar itu. Meskipun nombok," jelas Iwan.
Strategi ini, disebut Iwan, dalam jangka pendek masih bisa dijalankan Pertamina dengan mengelola dinamika.harga BBM non subsidi.lainnya. Namun, lama kelamaan akan menggerogoti kondisi keuangan BUMN itu, sehingga tidak sehat.
Menurut Iwan, strategi yang bisa ditempuh pemerintah melalui Pertamina dalam mengatasi masalah ini adalah menggenjot produksi minyak nasional. Sebab, saat ini Indonesia masih mengalami.defisit, dimana produksi minyak hanya 580.000 barel per hari, namun kebutuhan mencapai 1,6 juta barel per hari.
Hal itu yang memicu Indonesia harus mengimpor. Padahal, harga minyak dunia fluktuatif, ditambah biaya angkut dan penyimpanan yang tidak murah,asuransi dan lain-lain. (Tan/Aa)
Rekomendasi
Begini Cara yang Benar Bersihkan dan Mencuci Mobil yang Terkena Abu Vulkanik Gunung
Sempat Mejeng di GIIAS 2026, Hyundai Staria EV Segera Dijual di Eropa, Ini Keunggulannya
Bos CATL Ingatkan Potensi Baterai Gagal Akibat Cepatnya Siklus Produksi Mobil Listrik
Ini Cara Mudah Hindarkan Diri Terlibat Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
Kongsi Geely - Renault Bikin Sistem PHEV Khusus Mobil Off-road, Ini Istimewanya
