Jakarta, Mobilitas – Kendaraan listrik (electric vehicle/EV) menjadi mesin pertumbuhan baru sektor otomotif nasional. Terbukti, tren pertumbuhan pangsa pasarnya berikut volume penjualan unit yang terus meningkat di tengah loyonya pasar mobil di Indonesia.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), menunjukkan porsi penjualan mobil konvensional bermesin pembakaran internal (ICE) pada tahun 2021 masih 99,6 persen. Tetapi di tahun 2025 merosot menjadi 78,2 persen.
Sebaliknya, porsi penjualan mobil listrik baterai (BEV) trennya terus merambat naik, jika di tahun 2021 baru 0,1 persen, pada akhir 2025 menjadi 12,9 persen pada akhir 2025. Bahkan per Maret 2026, porsi BEV naik lagi menjadi 15,6 persen,sedangkan ICE melorot menjadi 75 persen.
Menurut Chief Executive Officer Degree Synergy International, Andrea Suhendra, penjualan EV diyakini tambah meledak, setelah harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi naik. Terlebih selisih harga antara harga EV dengan ICE makin tipis.
“Faktor lainnya yang juga menentukn keputusan orang membeli EV adalah karena jarak tempuh EV makin jauh, bisa mencapai 600 kilometer (km) saat baterai terisi penuh. Ini bisa mengurangi kecemasan jarak (range anxiety) yang biasanya dialami pengguna EV,” papar Suhendra dalam diskusi bertajuk Lonjakan Harga Minyak Dunia, Momentum Genjot Adopsi Electric Vehicle yang digelar Forum Wartawan Industri (Forwin) di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Penjualan EV semakin mencuat, lanjut Suhendra, karena ragam pilihan varian model plus teknologi fitur yang menyertainya semakin bertambah banyak. Walhasil, konsumen memiliki referensi pilihan yang lengkap sesuai kebutuhan dan keinginan atau selera.
“Satu hal lagi, total cost ownership mobil listrik lebih rendah dibanding ICE. Biaya energi, biaya perawatan lebih rendah,” jelas Suhendra.
Dia mencatat, jumlah model BEV saat ini mencapai 74, naik tajam dari tahun 2021 yang hanya 11. Adapun model PHEV yang beredar kini mencapai 12, membuat penjualan segmen ini melonjak dari hanya 42 unit per Maret 2025 menjadi 1.521 unit per Maret 2026.
Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta, di forum yang sama menegaskan Kemenperin terus mendorong percepatan pengembangan ekosistem industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) nasional. Ini sebagai bagian dari transformasi industri menuju ekonomi hijau dan penguatan daya saing manufaktur nasional.
“Sebab, industri otomotif merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, transformasi menuju kendaraan listrik harus dipastikan berjalan baik dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi industri dalam negeri,” ujar Setia.

Menurut Setia, saat ini terjadi perubahan preferensi konsumen, masyarakat mulai memilih kendaraan yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. “Ini menjadi sinyal positif bagi transformasi industri otomotif nasional,” tandas dia.
Adapun soal loyalitas merek dari negara tertentu, menurut Andrea Suhendra yang ditemui Mobilitas usai diskusi, saat ini konsumen mobil (yang sebagian besar generasi milinial dan generasi Z) tidak fantik sempit ke merek-merek tertentu dan dri negara tertentu pula.
Konsumen dari dua kelompok itu, yang porsinya dalam struktur konsumen di Indonesia merupakan mayoritas, lebih rasional dalam melihat produk. Merek melek teknologi, melek informasi, sehingga lebih rasional.
“Dari manapun asal mobil itu, selama teknologinya oke, tampilan oke, fiturnya sangat berguna dalam kekinian, harga msuk akal sehingga value for money tinggi ya mereka pilih. Nah EV banyak mereka nilai menawarkan itu semua,” tandas Suhendra. (Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id












