⌂ Beranda › Mobility › Pemerintah Mulai Olah Batubara Jadi Bahan Bensin, Pakar Ingatkan Tantangan Ini
Mobility

Pemerintah Mulai Olah Batubara Jadi Bahan Bensin, Pakar Ingatkan Tantangan Ini

Pemerintah Klaim Mulai Olah Batubara Jadi Bahan Bensin, Pakar Ingatkan Tantangan Ini
Ilustrasi, pengisian BBM di sebuah SPBU - dok. Istimewa
A A Ukuran Teks16px

Jakarta, Mobilitas - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung menyebut pemerintah telah menguji coba pengembangan batubara kalori rendah menjadi bahan produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) Bensin. Bahan itu berupa metanol.

"Tempo hari kita sudah memulai kegiatan investasi batubara menjadi metanol yang di Kutai Timur. Saya yang melakukan ground breaking untuk kegiatan itu. Beberapa yang di Kalimantan Timur itu sudah mulai," ujar Yuliot seperti dikutip saat di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Selasa (29/9/2026).

Sumber batubara kalori rendah itu, lanjut Yuliot, selain di Kalimantan Timur, juga ada di Sumatera Selatan. Dia memastikan wilayah bagian Selatan Sumatera itu memiliki potensi batubara jenis itu yang melimpah. "Metanol itu kan bisa digunakan untuk sebagai pencampuran Bahan Bakar minyak," jelas Yuliot.

Sementara itu, pengamat energi di Ikatan Ahli Pertambangan Indonesia, Chandra Purnawan, yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Rabu (30/9/2026).menyebut pengolahan batubara menjadi metanol untuk campuran pembuatan bensin sangat dimungkinkan.

"Teknologi untuk pembuatan metanol dari batubara ini bahkan sudah digunakan di Afrika Selatan oleh perusahaan bernama Sasol yang mengoperasikan perusahaan bernama Coal to Liquid di negara itu," ungkap Chandra.

Proses pembuatan ini diawali mengubah batubara menjadi gas sintetis berupa karbon monoksida dan hidrogen. Prosesnya melalui reaksi kimia batubara dicampur oksigen dan uap air.

"Nah, gas ini kemudian diolah yang untuk menghasilkan turunan Dimethyl Ether bahkan bensin. Tetapi, secara biaya untuk produksi ini masih mahal," ujar Chandra.

Untuk produksi, lanjut Chandra, butuh investasi yang besar. Sehingga, tingkat keenomian harga produk hasil pengolahan masih perlu dilihat dengan cermat.

"Ini sudah ada buktinya, yaitu perusahaan asal Amerika Serikat, Air Product, yang tidak melanjutkan investasinya. Mereka memutuskan untuk tidak meneruskan rencana setelah menghitung tingkat keekonomiannya, " papar Chandra.

Tantangan lain dari produksi konversi batubara menjadi bahan baku bensin itu adalah soal isu lingkungan. Faktor ini menjadi sensitif karena penggiat lingkungan lokal maupun internasional kerap menyuarakan isu pembukaan lahan tambang dan eksploitasi batubara seringkali menimbulkan kerusakkan ekologi. (Anp/Aa)

Tentang Penulis
Arif Arianto

Senior Editor

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id

🔗 Berita Terkait
📰 Update Terbaru