Jakarta, Mobilitas – Masih berlangsungnya kebijakan pemberian subsidi di sejumlah wilayah maupun negara serta naiknya harga bahan bakar minyak dunia menjadi pemicunya. Kenaikan penjualan mobil listrik (mobil listrik baterai alias BEV dan plug-in hybrid) di bulan Mei tersebut merupakan kenaikan ketiga kalinya di penjualan bulanan.
Laporan Reuters yang mengutip data Benchmark Mineral Intelligence (BMI) dan dikutip Mobilitas di Jakarta, Jumat (19/6/2026) menyebut selama bulan kelima atau di di bulan Mei 2026, total penjualan mobil listrik itu di dunia mencapai 1,8 juta unit. Jumlah itu 3 persen dibanding penjualan selama bulan Mei 2025.
“Eropa benar-benar menjadi faktor pendorong pertumbuhan ini di bulan itu,” kata manajer data BMI, Charles Lester, kepada Reuters.
Total jumlah mobil listrik baru yang dibeli konsumen dan didaftarkan ke pihak berwenang di wilayah itu naik 23 persen menjadi sekitar 415.000 unit. “Permintaan selama bulan Mei di wilayah tersebut, didorong oleh subsidi pemerintah dan harga bensin yang tinggi. Ini yang mendorong pembelian lebih awal,” kata Lester.

Namun, ternyata, tidak semua wilayah pasar utama membukukan kenaikan penjualan. Di Republik Rakyat Cina misalnya, penjualan ritel turun 9% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi sekitar 987.000 unit.
Merosotnya penjualan di Negeri Tirai Bambu itu terjadi setelah progrm tukar tambah mobil ditarik. Sementara keringanan pajak untuk pembelian kendaraan listrik berakhir pada awal tahun 2026.
Penjualan juga turun di Amerika Utara, bahkan hingga 26 persen menjadi sekitar 123.000 unit pada bulan Mei. Kemerosotan ini diakibatkan berakhirnya skema kredit pajak AS dan proposal dari pemerintahan Presiden Donald Trump untuk lebih melonggarkan aturan emisi karbon dioksida. (Anp/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id












