Jakarta, Mobilitas – Laporan Bank Dunia bertajuk “Indonesia Economic Prospects” edisi Juni 2026 menyebut kondisi itu menyebabkan beban anggaran semakin berat.
Laporan lembaga keuangan internasional itu yang dikutip Mobilitas di Jakarta, Jumat (12/6/2026) menyebut subsidi BBM masih lebih banyak dinikmati kelompok masyarakat berpendapatan tinggi.
“Ini terlihat dari kepemilikan kendaraan bermotor milik masyarakat kelompok berpendapatan tingggi yang memiliki jumlah kendaraan yang lebih banyak. Terlebih, kendaraan itu banyak yang mengggunakan BBM bersubsidi dengan dalih yang tidak bisa ditolak, ” bunyi laporan tersebut.
Bahkan, lembaga yang terafiliasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan misi utama mengentaskan kemiskinan ekstrem dan membangun kemakmuran bersama secara global itu menghitung besaran manfaat subsidi yang dinikmati kelompok orang kaya dan orang miskin di Indonesia.

“Secara per kapita, total manfaat subsidi yang diterima kelompok desil tertinggi (berpendapatan tinggi) mencapai lebih dari Rp2,5 juta. Angka tersebut jauh lebih besar dibanding yang dinikmati kelompok berpendapatan rendah yang hanya sekitar Rp50 ribu per kapita, ” sebut Bank Dunia.
Oleh karena itu, lembaga yang berdiri sejak 27 Desember 1945 ini mengusulkan agar Indonesia melakukan reformasi subsidi bahan bakar yang kredibel. Tujuannya mengubah skema subsidi energi yang hingga saat ini masih belum sepenuhnya tepat sasaran karena lebih banyak dinikmati kelompok masyarakat yang berpendapatan tinggi atau yang tidak berhak. (Jrr/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id












