Bisnis

Rupiah Melemah, Industri Komponen Otomotif Beri Sinyal Harga Bisa Tiba-tiba Naik

×

Rupiah Melemah, Industri Komponen Otomotif Beri Sinyal Harga Bisa Tiba-tiba Naik

Share this article
Ilustrasi, filter AC mobil yang telah kotor dan yang baru - dok.Istimewa

Jakarta, Mobilitas – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu, 20 Mei 2026 hingga siang ini bergerak melemah dan sempat menyentuh kisaran Rp 17.743 – Rp 17.760 per dolar AS. Kondisi diakui membuat industri produsen komponen atau spareparts mobil maupun motor kesulitan untuk bertahan.

Terlebih, seperti diungkap Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmat Basuki, banyak bahan baku komponen buatan lokal yang harus diimpor. Beberapa bahan itu antara lain plastik, alumunium, baja, dan beberapa materil lainnya.

“Kondisi ini semakin sulit, karena pasokan bahan baku juga seret, akibat ketegangan geopolitik. Sehingga, industri komonen nasional harus bertahan meskipun mrgin terus tergerus,” ungkap Basuki saat dihubungi Mobilitas di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Basuki menyebut untuk melakukan koreksi harga dengan serta merta menaikkan harga jual, tidak bisa. Pasalnya, perusahaan pembuat komponen (anggota GIAMM sekitar 250 – 300 perusahaan) terikat kontrak dengan harga yang disepakati sebelumnya bersama konsumen penyerapnya yakni pabrikan mobil dan motor.

Ilustrasi Suku Cadang Truk – dok.Mobilitas

“Jadi untuk menaikkan harga jual spareparts ini, kita menunggu dulu review yang dilakukan produsen mobil maupun motor yang menjadi produk kita. Jadi kalu nanti hasil review menunjukkan perlu koreksi harga seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, maupun langkanya bahan baku, ya kita naikkan harga itu,” papar Basuki.

Tetapi, lanjut Basuki, jika melihat tren kondisi global dan potensi tren nilai tukar sepertinya kemungkinan untuk menerek harga bakal terjadi. “Industri semakin sulit jika tidak menyesuaikan harga,” tandsr Basuki.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Telisa Aulia Falianty yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Rabu (20/5/2026) mengaku bisa memaklumi jika industri komponen mengerek harga jua produknya.

“Karena infustri otomotif termasuk industri komponen pendukungnya, itu merupaka salah satu industri dengan bahan baku impor yang cukup tinggi. Sementara nilai tukar untuk impor nilainya melemah. Lebih dari itu jejaring pasokan bahan baku terganggu akibat ketegangan geopolitik. Itu membuat ongkos angkutnya meningkat karena harus melalui jalur alternatif. Lalu reasuransi pengiriman tarif preminya juga naik,” jelas Telisa. (Tom/Aa)

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id