Shanghai, Mobilitas – Hasil riset yang dilakukan perusahaan konsultan Hejun menunjukkan rata-rata mobil listrik baru hanya sebentar oleh pemiliknya. Karena setelah 1,8 tahun diganti oleh pemiliknya, jauh lebih cepat dibanding penggntian mobil berbahan bakar bensin tradisional yang penggantiannya dilakukan setelah 8,2 tahun.
Bahkan laporan 21st Century Business Herald yang disitat Mobilitas di Jakarta, Senin (13/7/2026) menyebut Asosiasi Produsen Otomotif China (CAAM) dan perusahaan konsultan Hejun menemukan fakta, ternyata siklus penggantian mobil listrik itu lebih singkat daripada waktu yang dibutuhkan orang untuk mengganti ponsel mereka.
“Setidaknya ada tiga alasan yang menyebabkan konsumen di negara ini (Cina) cepat berganti mobil listrik. Pertama, karena kemajuan teknologi baterai, perangkat lunak, dan chip prosesor di indusri mobil listrik yang begitu cepat membuat konsumen untuk cepat melakukan upgrade ke model mobil baru,” bunyi keterangan hasil riset itu.

Kedua, cepat menyusutnya nilai jual kembali mobil listrik menjadikan pemilik untuk segera melegonya agar tak merugi lebih banyak jika harus menunda-nunda penjualan. Hasil riset memperlihatkan setelah tiga tahun penggunaan, nilai mobil listrik tinggal 43,35 persen dari harga aslinya, jauh lebih rendah ketimbang mobil bermesin pembakaran internal.
Faktor ketiga, karena konsumen mobil listrik terbanyak di Cina merupakan konsumen usia muda di bawah 40 tahun, yang sangat gandrung fitur mengemudi cerdas dan pengalaman digital.
Data platform otomotif online Dongchedi menyebut hingga 43 persen konsumen membeli mobil listrik baru karena ingin menikmati fitur pintar yang lebih canggih. (Anp/Aa)
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id












