Jakarta, Mobilitas – Meski total nilai penyaluran pembiayaan kredit mobil konvensional menyusut, namun sejumlah kalangan meyakini hal itu bukan berarti pasar mobil bekas (mobkas) bakal tergeser oleh mobil bekas listrik. Kenaikan pembiayaan kredit mobil bekas listrik terjadi karena permintaan mobil hybrid (paduan motor listrik dan mesin konvensional).
"Dan yang menjadi peminat mobil listrik bekas, baik mobil listrik baterai (BEV) maupun hybrid, itu mayoritas kalangan kelas menengah lapisan paling atas dan kelas atas. Mengapa begitu? Karena jika dibanding mobil bekas ICE (Internal Combustion Engine alias mobil konvesional), harga mobil listrik bekas listrik baterai maupun hybrid itu masih lebih mahal," ungkap peneliti senior Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia, Dr. Ir. Riyanto saat dihubungi Mobilitas di Jakarta, Jumat (25/9/2026).
Sementara, lanjut Riyanto, sekitar 90 persen pembeli mobil bekas itu first buyer atau orang yang baru pertama kali membeli mobil. Bagi kelompok konsumen ini faktor harga sangat berpengaruh besar.
Terlebih di tengah daya beli masyarakat menengah ke bawah yang masih lemah, sehingga membeli mobil (bahkan mobil bekas sekali pun) bukan prioritas yang ingin diwujudkan. Fakta penelitian, sebut Riyanto, memperlihatkan pembeli mobil listrik maupun hybrid, itu mayoritas kalangan kelas menengah lapisan paling atas dan kelas atas lapisan terbawah untuk mobil kedua atau bahkan ketiga.
Dengan demikian, meski nilai penyaluran pembiayaan kredit mobil bekas konvensional saat ini menyusut dan sebaliknya mobil listrik (dan mobil hybrid) naik, bukan berarti pasar mobil bekas bakal tergerus. Terlebih, nyatanya, populasi mobil konvensional – baik baru maupun bekas – masih jauh lebih banyak.
Apalagi, secara umum, masyarakat Indonesia – kelompok menengah ke bawah – masih awam dengan mobil listrik, dan tak serta merta memburu mobil listrik bekas. Oleh karena itu, mobil konvensional bekas masih akan diminati dan pasarnya masih eksis.
Sekadar informasi, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut penyaluran pembiayaan mobil bekas konvensional sepanjang Januari – Juli 2026, aaterkontraksi 4,52 persen (year on year/(YoY)) menjadi Rp86,25 triliun. Sebaliknya, pembiayaan mobil bekas listrik dan hybrid tumbuh 103,06% persen YoY) menjadi Rp1,52 triliun. (Swe/Aa)
