Detroit, Mobilitas – Alliance for Automotive Innovation atau aliansi produsen otomotif di Amerika Serikat (AS) meminta pemerintah Negeri Paman Sam itu meminta Kongres untuk mengesahkan larangan permanen terhadap mobil asal China.
Laporan The Detroit Beaureau dan Reuters yang disitat Mobilitas di Jakarta, Sabtu (7/11/2026) menyebut hingga saat ini pembahasan rancangan undang-undang (RUU) larangan kendaraan asal China tertunda. Dua RUU itu adalah Connected Vehicle Security Act dan Protecting America from Chinese Cars Act.
Connected Vehicle Security Act berfokus pada pengawasan teknologi, keamanan siber, serta kedaulatan data. Rancangan undang-undang ini telah diloloskan oleh komite Senat pada Juli 2026 dan kini menunggu voting dari anggota Senat.
Sedangkan Protecting America from Chinese Cars Act berfokus pada penegakan hukum perdagangan, struktur korporasi, serta celah rantai pasok. Undang-undang ini secara eksplisit melarang kendaraan China memasuki pasar AS melalui negara mitra perdagangan bebas seperti Meksiko atau Kanada.
"Kita harus melindungi pasar AS dari banjir impor mobil China, karena impor ini membawa risiko pengawasan intelijen dan merugikan produsen saat ini yang telah melakukan investasi lintas generasi di Amerika," papar Ketua Aliansi Produsen Otomotif AS, John Bozzella.
Sejatinya, produsen mobil asal China sudah dikenai tarif impor 100 persen untuk mobil listrik (electric vehicle/EV). Mereka juga dilarang melakukan penjualan di wilayah AS karena dikhawatirkan menimbulkan ancaman terhadap keamanan data dan keamanan nasional.
Kebijakan pembatasan ini berlaku sejak era pemerintahan Presiden Joe Biden, bersamaan dengan aturan penolakan hak insentif pajak federal bagi kendaraan listrik jika komponen baterai atau mineral penting berasal dari perusahaan yang terhubung dengan China. Namun pabrikan China ditengarai menyiasatinya dengan melalui negara mitra perdagangan bebas seperti Meksiko atau Kanada. (Din/Aa)
