Bisnis

Penduduk Cuma 34,4 Juta, Tapi Penjualan Mobil di Malaysia Semester I 2026 Pepet Indonesia

×

Penduduk Cuma 34,4 Juta, Tapi Penjualan Mobil di Malaysia Semester I 2026 Pepet Indonesia

Share this article
Ilustrasi, SUV Proton X50 - dok.Proton

Jakarta, Mobilitas – Negeri jiran atau negara tetangga Indonesia itu, kini telah menjadi pasar mobil terbesar kedua di Asia Tenggara (ASEAN) setelah Indonesia. Malaysia yang kini berpenduduk 34,4 juta jiwa itu menggeser Thailand dari posisi kedu terbesar, termasuk di periode Januari – Junia atau semester I 2026.

Data Asosiasi Otomotif Malaysia (MAA) dan Jabatan Pengangkutan Jalan (JPJ) yang disitat Mobilitas di Jakarta, Kamis (16/7/2026) menunjukkan di semester pertama 2026 tersebut, jumlah mobil yang terjual di Malaysia mencapai 409.310 unit. Jumlah tersebut naik 3,9 persen dibanding total penjualan yang terceak selama periode sama pada tahun 2025.

Sementara, Indonesia yang berpenduduk 289,7 juta jiwa (menurut Ditjen Dukcapil Kemendagri), sela periode enam bulan pertma 2026 tersebut membukuan penjualan mobil yang sedikit tak jauh berbeda. Meski sudah naik cukup lumayan dibanding periode semester pertama di 2025.

Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) yang disitat Mobilitas di Jakarta, Kamis (16//7/2026) menunjukkan di enam bulan pertama 2026 tersebut wholesales mobil di Indonesia mencapai 436.564 unit. Jumlah ini meningkat 15,9 persen dibanding total wholesales di periode sama 2025, yang sebanyak 376.707 unit.

Sementara, total penjualan ritelnya di periode semester pertama 2026 mencapai 433.848 unit. Total penjualan eceran ke konsumen itu naik 10,5 persen dibanding total penjualan eceran di rentang waktu Januari – Juni 2025 yang sebanyak 376.707 unit.

LCGC Daihatsu Sigra di Indonesia – dok.Mobilitas

Ihwal perbandingan yang mencolok soal jumlah penduduk serta total penjualn mobil di Indonesia dengan Malaysia itu, Ekonom CELIOS, Nailul Huda, yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Kamis (16/7/2026) menyebut karena daya beli masyarakat Indonesia yang loyo. Jumlah kelas menengah yang merosot akibat biaya hidup naik, tetapi pendapatan tak naik

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kelas menengah turun dari 57,33 juta orang (2019) menjadi 46,7 juta orang pada periode 2025-2026. “Faktor lain yang membuat orang Indonesia enggan belanja atau beli barang non primer atau kebutuhan mendesak adalah keyakinan konsumen (BI menyebutnya Indeks Keyakinan Konsumen/IKK) yang rendah.

“Ini merupakan konsmen terhadap kondisi ekonomi mereka dan nasional. Mereka pesimis karena nyari duit sulit, banyak PHK, biaya hidup naik. Pembelian mobil di kita banyak dilakukan kelas atas. Selain itu jumlah merek yang berjualan juga semakin banyak, ini yang membut penjualan naik, tetapi pasar tidak membesar,” papar Nailul. (Usp/Aa)

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id