Bisnis

Penjualan LCGC di Januari – Mei 2026 Merosot, Ini Faktor yang Diduga Jadi Penyebabnya

×

Penjualan LCGC di Januari – Mei 2026 Merosot, Ini Faktor yang Diduga Jadi Penyebabnya

Share this article
LCGC Toyota Agya - dok.Mobilitas

Jakarta, Mobilitas – Sepanjang lima bulan pertama atau periode Januari hingga Mei 2026, total penjualan grosir dari pabrik ke dealer alias wholesales mobil kategori Low Cost Green Car (LCGC) anjlok hampir sepertiga dibanding periode sama di tahun 2025.

Sekretaris Uumum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Sabtu (20/6/2026) menjelaskan permintaan dealer terhadap model mobil tertentu (wholesales) tentu didasari fakta riil permintaan langsung konsumen (penjualn ritel).

“Dengan kata lain, distribusi mobil ke dealer atau wholesales sangat dipengaruhi oleh penjualan ritel, yakni penjualan dari dealer ke konsumen. Nah, kalau kita lihat datanya, penjualan ritel LCGC itu turun di periode januari – Mei 2026,” ungkap Kukuh.’

Menurut dia, total penjualan ritel LCGC di lima bulan pertama 2026, hanya sekitar 42.000- an unit, menurun signifikan dibanding periode sama di tahun lalu yang sebanyak 47.000-an unit. Sementara, total wholesales-nya di saat yang sama sebanyak 46.055 unit, anjlok 22,9 persen dibanding wholesales selama lima bulan pertama 2025 yang sebanyak 59.737 unit.

LCGC Daihatsu Sigra – dok.Mobilitas

“Faktor utama adalah keraguan calon konsumen terhadap kondisi ekonomi. Merek ragu jika membeli mobil dengan cara kredit, nanti di tengah perjalanan masa kredit tidak sanggup karena harga barang mahal yang menguras anggaran rumah tangga mereka. Bahkan tidak sedikit yang khawatir terkena PHK saat kredit berlangsung. Pembeli mobil LCGC itu 90 persen merupakan first buyer atau pembeli pemula mobil. Mereka sangat sensitif terhadap gejolak harga dan ekonomi, ” ungkap Ekonom CELIOS, Nailul Huda yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).

Terlebih, sekitar 75 – 80 persen dilakukan secara kredit. Sehingga faktor bunga kredit atau pinjaman dri bank atau lembaga pembiayaan serta inflasi yang bisa saja tiba-tiba melonjak membayangi mereka.

“Karena jika itu terjadi, maka mereka merasa kan kesulitan. Sehingga saat ini konsumen potensial LCGC yang merupakan kelas menengaha lapis bawah dan kedua (seperti diketahui kelompok kelas menengah terdiri dari tiga lapis yakni entry level medium class, lapis menengah, dan lapis bagian atas) kini banyak menahan konsumsi, apalagi konsumsi barang-barang non orimer atau sekunder yang mendesak. Mobil masih masuk barang kebutuhan tersier di kelompok kelas itu, ” jelas Nailul. (Din/Aa)

Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id