Beijing, Mobilitas – Mobil listrik bernama Ferrari Luce itu diluncurkan pertama kali pada Mei 2026, dan langsung menuai kritik karena sedan listrik empat pintu itu bentuk dan gayanya dinilai terlalu sederhana. Bahkan pabrikan supercar asal Marnello, Italia, itu memecat Kepala Pemasarannya, Enrico Galliera.
Namun, ternyata, di Republik Rakyat Cina, mobil listrik yang dijual sejak akhir bulan Juni 2026 (dengan peluncuran di Shanghai) itu malah laris. Laporan laman EV Arena dan The Shanghai Express yang dikutip Mobilitas di Jakarta, Kamis (2/7/2026) menyebut dalam sehari Ferrari Luce itu laku sebanyak 88 unit.
Fakta tersebut membuktikan betapa tinggginya minat masyarakat Negeri Tirai Bambu itu – khususnya kelompok berduit alias orang kaya – terhadap mobil merek dari perusahaan berlambang kuda jingkrak itu.
“Bukan sekadar nama besar Ferrari yang membuat mobil ini langsung terjual hingga kuota untuk Cina yang sebanyak 88 unit habis. Tetapi juga karena ini mobil listrik full yang selaras dengan tren di negeri ini. Selain itu harganya cukup menarik. Harus diakui di kalangan kelas atas merek mobil Ferrari dianggap sebagai salah satu simbol status,” ungkap Analis Industri di Bursa Saham Hong Kong Patrick Huang yang dikutip The Financial.

Faktanya, Ferrari Luce di negeri berpenduduk 1,42 miliar jiwa itu dibanderol 3.988.000 yuan atau sekitar Rp10,5 miliar. Harga tersebut lebih murah 7 persen dibanding di Eropa yang sebesar 550.000 euro atau sekitar Rp11,2 miliar.
Terlebih, besaran harga itu pelafalannya sangat menyentug emoisonal dan kepercayaan masyarakat Cina. Rentetetan penyebutan angka 3-9-8-8 secara fonetik alias pelafalan suara dan kata berarti “Kekayaan dan kemakmuran abadi dalam sepanjang hidup Anda.”
Menurut Patrick, cara penetapan harga Ferrari itu merupakan strategi pemasaran yang cerdas dengan melihat tiga hal. Pertama brand image Ferrari yang masih kuat di kalangan berduit di Cina.
Kedua, sesuai tren elektrfikasi yang tengah berkembang di negara itu. Dan ketiga menyentuh aspek emosional, kepercayaan atau budaya. (Din/Aa).
Mengawali kiprah di dunia jurnalistik sebagai stringer di sebuah kantor berita asing. Kemudian bergabung dengan media di bawah grup TEMPO Intimedia dan Detik.com. Sejak 2021 bergabung dengan Mobilitas.id










