Yamaha kembali mengembangkan teknologi hybrid untuk kendaraan roda dua. Rancangan terbaru memperlihatkan sistem yang memadukan mesin bensin satu silinder, dua motor listrik, kopling elektromagnetik, serta transmisi CVT dalam satu paket.
Teknologi tersebut berkaitan dengan Proto HEV yang diperkenalkan Yamaha pada 2025. Dokumen paten terbaru memberi gambaran lebih rinci mengenai cara kerja sistem hybrid itu sekaligus menunjukkan kemungkinan penerapannya pada skuter dengan bentuk yang lebih konvensional.
Menariknya, Yamaha sebenarnya sudah cukup lama bereksperimen dengan kombinasi mesin pembakaran internal dan tenaga listrik. Upaya tersebut bahkan sudah berlangsung lebih dari dua dekade.
Eksperimen Hybrid Yamaha Sudah Dimulai Sejak 2005
Pada 2005, Yamaha memperkenalkan Gen-Ryu, motor konsep bergaya cruiser-tourer dengan mesin empat silinder segaris 599 cc milik YZF-R6. Mesin tersebut dipadukan dengan motor listrik melalui transmisi planetary yang konsep kerjanya menyerupai sistem pada Toyota Prius.
Gen-Ryu tidak berlanjut menjadi sepeda motor produksi. Namun, Yamaha kemudian mengembangkan gagasan serupa melalui HV-X pada 2007 dan 2008 dengan pendekatan yang lebih realistis untuk kendaraan jalan raya.
HV-X menggunakan mesin parallel-twin dari TMax 500. Tenaga mesin bensin dan motor listrik kembali disatukan menggunakan transmisi planetary.
Pendekatan tersebut tidak lepas dari hubungan panjang Yamaha dan Toyota dalam berbagai proyek. Ketika itu, Toyota Prius sedang mencatat penjualan tinggi secara global sehingga konsep penggerak hybrid juga dicoba pada kendaraan roda dua.
HV-X bahkan sempat diperagakan dalam kondisi berjalan. Namun, proyek itu kemudian menghilang ketika krisis ekonomi global 2008 mendorong produsen memangkas anggaran riset dan pengembangan, termasuk proyek teknologi baru yang dinilai berisiko.
Proto HEV Menggunakan Dua Motor Listrik
Yamaha kini kembali membawa konsep hybrid melalui dua pendekatan berbeda. Proto PHEV berbasis MT-09 memakai mesin tiga silinder dan sistem plug-in hybrid yang ditujukan untuk meningkatkan performa sekaligus menekan emisi.
Sementara itu, Proto HEV mengambil jalur berbeda. Kendaraan ini menggunakan mesin satu silinder, dua unit motor-generator listrik, dan transmisi CVT belt-driven yang memungkinkan pengendara mengoperasikannya dengan sistem twist-and-go seperti skuter otomatis.
Dalam dokumen paten, konfigurasi tersebut disebut sebagai series-parallel hybrid. Kendaraan dapat bergerak hanya menggunakan motor listrik, mengandalkan mesin pembakaran internal, atau memakai keduanya secara bersamaan sesuai kebutuhan.
Motor listrik pertama ditempatkan di bagian belakang unit swingarm dan transmisi bergaya skuter. Motor ini terhubung langsung dengan roda belakang.
Energinya berasal dari baterai berukuran cukup besar yang ditempatkan di antara kaki pengendara. Saat mode listrik digunakan, mesin bensin dimatikan dan diputus dari CVT menggunakan kopling elektromagnetik.
Motor belakang juga mempunyai fungsi regeneratif. Ketika kendaraan melakukan deselerasi, energi dapat dikembalikan ke baterai untuk mengisi daya.
Mesin Bensin Bisa Berfungsi sebagai Range Extender
Motor listrik kedua terpasang pada crankshaft mesin dan dapat bekerja sebagai motor maupun generator. Konfigurasi inilah yang memungkinkan mesin bensin mengambil beberapa fungsi berbeda bergantung pada kondisi kendaraan.
Ketika kapasitas baterai turun melewati batas yang telah ditentukan, mesin pembakaran dapat menyala secara otomatis. Kopling elektromagnetik tetap dilepas dari CVT sehingga mesin tidak langsung menggerakkan roda.
Dalam kondisi tersebut, mesin dapat bekerja pada putaran konstan yang efisien untuk menggerakkan generator dan mengisi baterai. Proto HEV masih bergerak dengan tenaga listrik, sementara mesin bensin berperan sebagai range extender.
Sistem akan bekerja berbeda ketika pengendara meminta tenaga yang lebih besar daripada kemampuan motor listrik belakang. Kopling secara otomatis terhubung sehingga mesin bensin menyalurkan tenaga menuju roda belakang melalui CVT seperti skuter twist-and-go biasa.
Pada saat yang sama, motor-generator yang terhubung dengan mesin masih dapat menghasilkan listrik untuk baterai. Motor listrik belakang juga dapat ikut mendorong roda sehingga mesin bensin dan motor bekerja bersamaan dalam mode parallel hybrid.
Ada Mode Boost untuk Tenaga Maksimal
Yamaha juga merancang mode yang lebih berorientasi pada performa. Dalam mode boost, kedua motor listrik membantu mesin pembakaran internal untuk menghasilkan torsi dan tenaga sebesar mungkin pada roda belakang.
Artinya, kombinasi penggeraknya tidak sekadar menyediakan pilihan antara mesin bensin dan listrik. Sistem dapat menentukan bagaimana ketiga sumber tenaga tersebut digunakan sesuai kebutuhan pada saat kendaraan berjalan.
Salah satu bagian penting dalam paten membahas perpindahan antarmode secara otomatis. Pengendara tidak perlu memilih sendiri kapan mesin bensin, motor listrik, atau kombinasi keduanya harus bekerja.
Komputer pengendali drivetrain mengatur fungsi penggerak dan regenerasi kedua motor, posisi throttle mesin pembakaran, serta proses menghubungkan atau melepaskan kopling elektromagnetik.
Pengaturan tersebut dirancang agar perubahan sumber tenaga berlangsung tanpa mengganggu respons kendaraan. Tenaga ke roda tetap harus sesuai dengan permintaan pengendara, baik ketika berasal dari motor listrik, mesin bensin, maupun kombinasi keduanya.
Teknologi Proto HEV Bisa Masuk ke Skuter Konvensional
Bagian lain dari paten memperlihatkan bagaimana seluruh perangkat hybrid tersebut dapat ditempatkan pada skuter yang bentuknya lebih umum. Ini berbeda dari Proto HEV yang diperlihatkan sebelumnya dengan desain di antara sepeda motor dan skuter.

Desain Paten Yamaha Proto HEV|Yahama|
Gambar paten memang masih berupa ilustrasi sederhana. Namun, susunan komponen menunjukkan sistem dua motor listrik, mesin bensin, baterai, dan CVT dapat dikemas dalam bodi skuter dengan footboard serta panel depan yang menutup area kaki pengendara.
Konfigurasi seperti ini memberi Yamaha ruang untuk menerapkan teknologi Proto HEV pada maxi-scooter tanpa harus mempertahankan bentuk kendaraan konsepnya.
Belum ada kepastian apakah rancangan tersebut akan berujung pada model produksi. Yamaha pernah berada pada posisi serupa melalui Gen-Ryu dan HV-X, tetapi kedua proyek terdahulu tidak pernah berkembang menjadi sepeda motor hybrid yang dijual massal.
Kondisi pasar saat ini berbeda dibandingkan dua dekade lalu. Sejumlah kota di berbagai negara mulai menerapkan zona tanpa emisi, sehingga kendaraan yang mampu berjalan sepenuhnya dengan tenaga listrik memiliki fungsi yang semakin relevan.
Konsep Proto HEV menawarkan kemampuan itu tanpa sepenuhnya meninggalkan mesin pembakaran. Motor dapat bergerak dalam mode listrik ketika diperlukan, sementara mesin bensin tetap tersedia untuk memperpanjang jarak tempuh dan memungkinkan pengisian bahan bakar seperti kendaraan konvensional.
