Bahlil Sebut Banyak Orang Beralih ke Pertalite, Pengamat Bilang Daya Beli Lemah Pemicunya

Bahlil Sebut Banyak Orang Beralih ke Pertalite, Pengamat Bilang Daya Beli Lemah Pemicunya
Ukuran Teks

Jakarta, Mobilitas - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengklaim stok Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional aman, meski beberapa waktu lalu terjadi antrean panjang di SPBU di sejumlah daerah.

Kepada media di Jakarta, Rabu (16/9/2026) menyebut ketahanan cadangan stok BBM nasional saat ini berada dalam batas minimal yang mencukupi, yakni untuk 18 hingga 20 hari. Menurut dia, fenomena antrean panjang, seperti yang terjadi di Sulawesi Selatan, dikarenakan banyak faktor.

"Selain karena ada oknum-oknum tertentu yang bermaksud untuk meraup untung, juga dikarenakan adanya orang-orang yang beralih dari BBM non subsidi ke BBM bersubsidi. Jadi bukan disebabkan oleh kelangkaan," tandas Bahlil.

Untuk menanggulangi pergeseran konsumsi tersebut, Bahlil mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini tengah memformulasikan aturan khusus agar penyaluran BBM bersubsidi lebih tepat sasaran. Pihaknya mengimbau kelompok masyarakat mampu yang mengendarai mobil bagus agar tidak mengambil hak masyarakat yang berhak atas BBM bersubsidi.

Sementara itu, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Wahyudi Anas yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Kamis (17/9/2026) menyebut sejak harga BBM nonsubsidi dinaikan dan harga Pertamax tetap bertengger di Rp15.950 per liter banyak masyarakat yang beralih ke Pertalite. Rata-rata konsumsi harian BBM Pertalite di bulan Agustus naik 12,92 persen dibanding periode sebelumnya.

"Konsumsi harian itu mencapai 82.760 kiloliter. Sedangkan realisasi penyalurannya per 20 Agustus 2026 mencapai 18,23 juta kiloliter. Total volume penyaluran tersebut setara dengan sekitar 62,28 dari kuota tahun 2026 ini yang sebesar 28,69 juta kiloliter," ungkap Wahyudi.

Menanggapi fakta banyaknya masyarakat yang beralih ke Pertalite, peneliti senior dari Indonesia Economic and Public Policy Studies (IEPS) Achmad Faisal Fanani yang yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Kamis (17/9/2026) mengatakan daya beli yang lemah menjadi pemicunya.

"Masyarakat kelas menengah yang sebelumnya mengggunakan Pertamax beralih ke Pertalite karena daya belinya melemah. Itu akibat biaya hidup yang mahal, tetapi pendapatan tetap. Sehingga, kalau nantinya ada pembatasan konsumsi Pertalite efek domionya besar. Coba lihat data BPS yang menyebut jumlah kelas menengah kita kini turun dari 47,9 juta jiwa pada 2024 menjadi 46,7 juta jiwa pada 2025, " tandas Faisal. (Jrr/Aa)

Tentang Penulis

Rekomendasi

Update Terbaru