⌂ Beranda Mobility Ternyata, 40 Persen Pertalite Dinikmati 20 Persen Orang Kaya, Nilainya Rp41 Triliun
Mobility

Ternyata, 40 Persen Pertalite Dinikmati 20 Persen Orang Kaya, Nilainya Rp41 Triliun

Ternyata, 40 Persen Pertalite Dinikmati 20 Persen Orang Kaya, Nilainya Rp41 Triliun
Ilustrasi, pengisian BBM Pertalite sebuah mobil di SPBU - dok.Istimewa via Haluan.co
A A Ukuran Teks16px

Jakarta, Mobilitas – Pemerintah berencana membatasi pembelian BBM subsidi, Pertalite untuk kelompok masyarakat desil 9 dan 10. Tujuannya agar penyaluran BBM yang harga jualnya disubsidi pemerintah tepat sasaran.

"Kami ingin BBM subsidi tepat sasaran. Pemerintah sedang mematangkan aturan agar penyaluran BBM subsidi jenis Pertalite tepat sasaran," ungkap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, di Jakarta, belum lama ini.

Sekadar informasi, desil adalah pembagian masyarakat berdasar tingkat kesejahteraan. Desil 1 – 5 merupakan 70 persen masyarakat dengan tingkat kesejahteraan terendah dan rendah, bahkan desil 1 masuk dalam kelompok miskin ekstrem.

Sementara itu, hasil Survei Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 yang dinukil Mobilitas, di Jakarta, Minggu (16/8/2026) menyebut sekitar 39,99 persen konsumsi BBM Pertalite dinikmati oleh 20 persen kelompok desil 9 dan 10 alias masyarakat kaya.

>>> Sebulan Mandatori B50, Pebisnis Angkutan Truk Minta Jaminan Ketersediaan BBM

Dengan kata lain, 78,93 persen dari total 1.774,5 juta liter Pertalite yang dikonsumsi masyarakat, 1,4 juta liter atau senilai Rp41 triliun dikonsumsi kelompok orang kaya.

"Faktanya memang seperti itu. Oleh karena itu, penataan ulang penyaluran dan pengaturan konsumsi Pertalite itu mendesak untuk dilakukan di tengah cekaknya anggara negara.

Pemerintah harus membuat parameter kelompok yang berhak mengkonsumsi BBM ini sekaligus pengawasannya di lapangan. Harus diakui, dua hal itu selama ini lemah, " papar peneliti senior Indonesia Economic and Public Policy Studies, Henry Andriansyah yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Minggu (16/8/2026).

Meski begitu, Henry mewanti-wanti agar pemerintah jeli melihat kelompok atau desil kelas menengah, karena kelompok ini, sekarang tengah terjepit. Sebab, pendapatan kelompo ini tetap tetapi biaya hidup naik, sehingga banyak orang yang masuk kelompok itu – khususnya lapisan pemula- terdegradasi atau turun kelas ke kelompok kelas bawah.

>>> Genjot Produksi Mobil Listrik Bisa Bikin Indonesia Naik Kelas di Kancah Global, Asalkan….

"Sehingga pembatasan konsumsi Pertalite ini harus cermat, jika tidak bisa timbul gejolak sosial. Karena kelas menengah menurut data BPS kan merosot jumlahnya dari 57,33 juta orang (21,45 persen populasi) pada 2019, menjadi 47,85 juta orang pada 2024, dan terus merosot hingga kini sekitar 46,7 juta, " tandas Henry. (Tus/Aa)

W
Tim Redaksi
Penulis: Wildan Elt Editor:: Wildan Elt
📰 Update Terbaru