Jakarta, Mobilitas - Jumlah pabrikan yang menjual sepeda motor listrik -baik lokal maupun dari luar negeri - terus bertambah- sehingga persaingan pun kian sengit.
Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setyadi menyebut, untuk memenangi persaingan tak cukup dengan keunggulan teknologi dan desain saja. Tetapi juga faktor harga, yang justru menjadi daya tarik utama.
"Karena saat ini desain sepeda motor listrik, kalau kita lihat itu bagus-bagus, keren. Teknologi yang ditawarkan pun, termasuk fitur, semua nyaris.mirip-mirip. Jadi seperti generik. Nah, ini yang membuat persaingan membutuhkan faktor daya tarik lain yaitu harga. Oleh karen itu, bagi masyarakat perbandingan hargalah yang menjadi pertimbangan utama," papar Budi yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Oleh karena itu, lanjut Budi, agar harga jual bisa ditekan maka penggunaan komponen dalam negeri (Tingkat Kandungan Dalam Negeri alias TKDN) diperbanyak. "Saat ini, rata-rata TKDN mereka sudah 40 persen. Nah, tahun depan bisa 60 persen, ya karena semakin tinggi maka harga juga semakin bersaing," papar Budi.

Meski begitu, Budi berharap insentif juga diberikan oleh pemerintah. Sebab, selain memberikan dorongan ke masyarakat untuk memggunakan kendaraan listrik yang muaranya mengurangi ketergantungan ke BBM fosil, juga untuk mendorong perkembangan ekosistem industri dalam negeri.
Sebab, dengan semakin banyaknya motor listrik yang terserap maka produsen akan semakin yakin untuk berinvestasi dan menggunakan komponen lokal. Dan dengan semakin banyaknya motor listrik yang digunakan, maka target penurunan emisi karbon pun mencapai kemajuan.
"Memang, kami di asosiasi tidak memiliki data yang lengkap untuk populasi sepeda motor listrik, karena banyak yang belum ikut asosiasi. Tetapi, laporan dari teman-teman dealer, sekarang penyebaran sepeda motor listrik di daerah semakin meluas," tandas mantan Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub itu. (Anp/Aa)