Jakarta, Mobilitas – Ketua Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (Aismoli) Budi Setiyadi menyebut penjualan sepeda motor listrik di Tanah Air di tahun 2026 ini – periode Januari hingga Agustus – merosot tajam dibanding tahun lalu. Padahal di tahun 2025 kemarin, penjualan sepanjang tahun sudah merosot dibanding tahun 2024.
"Kami di Aismoli telah mengumpulkan data laporan penjualan dari brand-brand anggota maupun yang non anggota. Dari data itu terlihat di tahun ini sampai bulan Agustus, jumlah sepeda motor listrik yang terjual baru sekitar 18.900 unit. Itu belum sampai setengahnya dari total penjualan selama tahun 2025 yang sebanyak 70.000 unit. Padahal jumlah brand yang berjualan bertambah banyak," papar Budi yang dihubungi Mobilitas di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
Menurut Budi, total penjualan selama tahun 2025 itu sejatinya juga sudah merosot tajam dibanding tahun 2025 yang sebanyak 77.000 unit. Menurut dia kemerosotan tersebut dipicu oleh hadirnya insentif pembelian, berupa potongan harga yang diberikan oleh pemerintah senilai Rp 7 juta.
"Mengapa saya katakan insentif potangan harga itu menentukan, karena di tahun 2023 saat subsidi belum diberikan, total penjualan itu baru sekitar 15.000 unit. Begitu insentof diberikan langsung melonjak. Nah, konsumen itu berhitung soal harga, sebab mereka membeli sepeda motor listrik itu didorong oleh keinginan untuk menghemat biaya mobilitas. Sehingga bagi mereka, harga produk tentunya juga yang lebih terjangkau. Selain soal faktor ingkungan tentunya," ujar Budi.
Ihwal insentif yang sangat berpengaruh dalam keputusan masyarakat untuk membeli motor listrik atau tidak, Budi menyebut itu fakta hasil riset. Kesimpulan riset tersebut menyatakan mayoritas pembeli motor listrik menyebut kendaraan ini lebih hemat biaya harian dibanding kendaraan konvensional (BBM).
Oleh karena itu, ketika di awal tahun 2026 pemerintah menyebut akan ada insentif berupa potongan harga, banyak masyarakat yang menungggu. Tetapi kepastian kebijakan tersebut tidak ada, sehingga orang bersikap menunggu, meski waktu terus berjalan. (Anp/Aa)
