Jakarta, Mobilitas - Selama ini calon konsumen menunggu kepastian ada tidaknya insentif tersebut, dan mereka berharap besaran insentif sama seperti tahun 202 4 yakni Rp 7 juta.
Namun, kemudian di akhir tahun 2025 tersiar kabar insentif bakal diberikan lagi, tetapi demgan besaran Rp 5 juta. "Nah, sekarang ada kabar lagi dari Menteri Keuangan Purbaya Sadewa yang menyebut besaran insentif hanya Rp 3 juta.
Proyeksinya hingga akhir tahun penerima insentif ini 100.000 unit motor listrik.
>>> Ini Sederet Fitur Chery Q Pendukung Kepraktisan Aktivitas Harian Penggunanya
Kalau melihat fakta empiris di masyarakat, tentu besaran insentif yang semakin menurun ini bakal berdampak," papar sumber Mobilitas di Asosiasi Industri Motor Listrik Indonesia (Aismoli) saat dihubungi di Jakarta, Jumat (21/8/2026).
Menurut dia, kini banyak masyarakat kelas menengah yang turun kelas menjadi kelompok kelas bawah. Penurunan ini disebabkan biaya kebutuhan hidup yang meningkat, tetapi pendapatan tetap atau bahkan malah menyusut.
>>> Proses Akusisi Bisnis Shell Indonesia oleh SEFAS Ditarget Rampung Tahun Ini
"Banyak orang ingin beralih ke motor listrik untuk menyiasti biaya hidup yang mahal itu. Terlebih harga BBM juga naik. Mereka pilih motor listrik untuk mobilitas sehari-hari karena biaya operasionalnya lebih murah. Artinya, faktor daya beli menjadi hal yang krusial kalau kita bicara soal pembelian motor listrik. Kalau insentifnya kecil ya tentu berpengaruh," papar sumber itu.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya mengatakan besaran insentif ditetapkan Rp 3 juta per unit untuk motor listrik yang diproduksi di dalam negeri.
>>> Tak Cuma di China, Penjualan Ritel Wuling Semester I 2026 juga Anjlok di Indonesia
Anggaran ini, kata Purbaya di Jakarta, Kamis (20/8/2026) secara teoritis dapat mendukung pembelian hingga 1 juta unit motor listrik.
Kendati begitu, lanjut Purbaya, pemerintah memperkirakan penyerapan program tidak akan mencapai 1 juta unit. "Saya pikir paling 100.000 (unit motor listrik) sampai akhir tahun," ujar Purbaya,. (Des/Aa)

