Perkembangan baterai kendaraan listrik mulai bergerak ke arah yang sedikit berbeda dari perkiraan beberapa tahun lalu. Persaingan kini bukan lagi sekadar antara baterai lithium-ion elektrolit cair dan solid-state, karena teknologi semi-solid mulai lebih dahulu diterapkan pada kendaraan.
Arsitektur semi-solid menjadi jalan tengah untuk memperoleh sebagian keuntungan baterai generasi baru tanpa harus langsung menuntaskan persoalan teknis pada all-solid-state. Salah satu tantangan terbesarnya adalah menjaga elektrolit atau separator padat tetap menempel sangat rapat dengan elektroda agar sel bekerja sebagaimana mestinya.
Kebutuhan tersebut sering kali mengharuskan sel mendapatkan tekanan cukup tinggi. Karena itu, baterai berbasis keramik atau sulfida dengan lithium-metal yang menjanjikan jarak tempuh panjang dan pengisian sangat cepat masih membutuhkan waktu sebelum diproduksi secara luas.
Nio Sempat Produksi Baterai Semi-Solid 150 kWh
Nio termasuk produsen yang sudah membawa teknologi semi-solid ke kendaraan. Pada 2024, perusahaan asal China itu memproduksi battery pack WELION berkapasitas 150 kWh dengan kepadatan energi 260 Wh/kg.
Konsep awalnya memungkinkan pemilik kendaraan menyewa baterai tersebut ketika membutuhkan perjalanan jarak jauh melalui sistem battery swapping. Namun, permintaan yang rendah membuat produksinya dihentikan setelah hanya beberapa ratus unit dibuat.
SAIC mengambil jalur serupa bersama pemasok baterai QingTao Energy. Keduanya mengembangkan battery pack semi-solid untuk IM Motors L6 Lightyear Max.
Baterai berkapasitas 130 kWh tersebut diklaim mampu membawa mobil menempuh 621 mil berdasarkan standar CLTC. Pengisian pada daya 400 kW disebut dapat menambahkan jarak tempuh setara 249 mil dalam waktu 12 menit.
Toyota Mengejar Baterai All-Solid-State
Toyota memilih pengembangan all-solid-state bersama Idemitsu Kosan. Sel yang sedang dikerjakan menggunakan katoda berenergi tinggi yang jenisnya belum diungkap, elektrolit padat berbasis sulfida, serta material anoda yang juga belum diumumkan dan diperkirakan menggunakan lithium.
Persiapannya sudah bergerak menuju tahap industri. Fasilitas percontohan untuk memproduksi elektrolit sedang dibangun, sementara rantai pasokan untuk teknologi tersebut mulai disiapkan.
CATL juga menjalankan beberapa jalur pengembangan sekaligus bersama sejumlah produsen kendaraan. Perusahaan baterai asal China itu mengerjakan teknologi semi-solid dan condensed-matter dengan kimia high-nickel serta anoda kaya silikon.
