Seoul, Mobilitas – Penemuan teknologi itu diperoleh oleh peneliti Korea Advance Institute of Science and Technology (KAIST) bersama LG Energy yang berhasil mengatasi kohesi antarmuka yang tidak seragam pada permukaan logam lithium ketika pengecasan baterai.
Laporan Joong Ahn Daily dan The Korean Express yang dikutip Mobilitas di Jakarta, Minggu (26/7/2026) menyebut para peneliti dari dua lembaga itu menemukan fakta bahwa tantangan teknis pengisian dayan baterai litium-logam ada di struktur antarmukanya. Munculnya dendrit - yang merupakan kristal litium- di permukaan anoda selama pengecasan baterai memperpendek masa pakai dan stabilitas daya di baterai.
Bahkan dendrit tersebut berpotensi menyebabkan arus pendek internal saat pengisian daya cepat dilakukan.

"Para peneliti akhirnya menemukan elektrolit cair yang bisa menghambat kohesi di permukaan anoda Elektrolit cair akan memanfaatkan struktur anion dengan afinitas ikatan lemah pada ion lithium (Li+), sehingga meminimalkan ketidakseragaman antarmuka lithium dan menghambat pertumbuhan dendrit, " ungkap Profesor teknik kimia dan biomolekuler KAIST, Hee Tak Kim.
Hasilnya, pengisian daya baterai cukup 12 menit untuk menyokong mobil pengggunanya mampu berjalan sejauh 800 kilometer. Para peneliti juga terus melakukan penyempurnaan aspek keamanannya.
Namun belum disebutkan kapan bateri tersebut diproduksi secara massal. (Swe/Aa)